Thursday, 26 July 2012

Mutiara Nasehat No. 301-310

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Kata mutiara nasehat ini Terinspirasi dari mutiara Qur'an , hadits dan perkataan ulama. jika ada yang salah mohon dimaafkan yang sebesar-besarnya. Tujuan kami hanyalah semakin mempermudah pemahaman kita dalam mempelajari ajaran agama islam. semoga bermanfaat amiien

301. keihlasan bersedekah

jangan melihat besar kecil pemberian tapi lihatlah keihlasan hati, karena semakin ikhlas semakin besar pula berkah dari pemberian.
"Karena pemberian yang disertai ketidakikhlasan sebesar apapun hanya akan menimbulkan celaka".
(ashabul muslimin)

302. Syukur
tak ada kata gagal bagi orang yang syukur, tak ada kata berhasil bagi orang kufur
(ashabul muslimin)

303. Diam adalah kebijaksanaan
“diamnya orang bijak lebih baik daripada bicaranya orang berilmu.”
(ashabul muslimin)

304. istiqomah
“hal yang kecil jika istiqomah dikerjakan maka akan menjadi hal yang besar, oleh karena itu janganlah kita menyepelekan segala sesuatu sekecil apapun”
(ashabul muslimin)

305. jangan merisaukan dunia 
 “Seorang mukmin hidup di dunia seperti orang asing (ghorib), tidak risau karena kehinaan (dunia), tidak berlomba-lomba mengejar kemuliaannya.  Manusia selalu punya keadaan dan ia akan terus punya keadaan. Manusia yang merasa nyaman dengan dunia maka dia akan selalu keletihan dan kelelahan.”
(Nasehat Imam Hasan)

306. Sifat Ghuroba' 
Diantara sifat-sifat orang-orang yang asing ini (Al Ghuroba’) yaitu orang-orang yang dipuji oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah, Berpegang teguh dengan sunnah apabila manusia meninggalkannya,  Meninggalkan bid’ah-bid’ah  yang  diperbuat manusia sekalipun itu mereka anggap baik,  Memurnikan tauhid sekalipun ia diingkari oleh kebanyakan manusia.

“Tidak menisbatkan diri kepada siapapun selain kepada Allah dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallama, tidak kepada syaikh, thoriqoh, mazhab, atau kelompok tertentu. Akan tetapi mereka menisbatkan diri kepada Allah dengan menghambakan diri hanya kepadaNya semata dan hanya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Mereka inilah orang-orang yang menggenggam bara api sebenarnya dan kebanyakan manusia bahkan seluruhnya mencela mereka”.
(Nasehat Imam Ibnul Qoyyim)

307. Nasehat penuh hikmah dari Nabi Muhammad saw
“ Belajarlah sebelum ilmu diangkat, sesungguhnya lenyapnya ilmu adalah dengan kepergian para ulama.”
“ Kalau bukan karena tiga perkara niscaya baik keadaan manusia, yaitu; orang pelit yang dita’ati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang pada diri sendiri. “
“barangsiapa yang dianugerahi hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri yang beriman, maka itu adalah sebaik-baik kenikmatan yang diberikan kepadanya, dan dia tidak akan ketinggalkan kebaikan sedikitpun.”
“ Barangsiapa yang banyak berdo’a diwaktu lapang dikabulkan do’anya diwaktu sempit, barangsiapa yang sering mengetuk pintu (mengharapkan hidayah), niscaya dibukakan untuknya”
(Nasehat Rasulullah SAW dari Abu darda)

308.  Tanda hari akhir
“Diantara tanda kiamat adalah tercabutnya ilmu agama dari muka bumi, yaitu dengan cara Allah memafatkan para ulama, sehingga tinggalah pemimpin-pemimpin yang bodoh yang memberi fatwa sesat dan menyesatkan, dan berakibat keadaan umat islam selalu terhinakan dan ditindas meskipun jumlahnya banyak tetapi tak ubahnya buih, yaitu banyak tetapi tak punya kekuatan sedikitpun untuk melawan musuh yang sedikit”.
(Ashabul Muslimin dari hadits nabi)

309. Selamatkan dirimu dari rusaknya peradaban
“Selamatkan dirimu dan keimananmu dari fitnah yang terjadi diakhir zaman yaitu dengan cara lari kegunung-gunung atau lembah-lembah yang aman dari fitnah kekacauan yang biasanya telah merajalela dilingkungan peradaban perkotaan”.

"Tidak mengharuskan lari dari perkotaan tetapi dengan cara tidak mengikuti perilaku dan budaya kebanyakan orang kota. Atau asingkan dirimu ditengah keramaian manusia dengan cara gemar melakukan amal shalih ditengah maraknya kemaksiatan".
(ashabul muslimin)

310. Jangan dicampur aduk
“Dan janganlah mencampuradukan urusan yang batil dengan haq. ibarat susu dicampur racun maka susu itu tak dapat diminum karena beracun begitu juga dengan syari’at islam”.
(ashabul muslimin)

Wednesday, 25 July 2012

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa

Ibadah puasa merupakan ibadah yang suci dan mulia oleh karena itu ada syarat, rukun dan pembatal-pembatalnya. Jika kita tidak mengetahui pembatal puasa maka puasa kita akan sia-sia jika kita melakukan hal yang membatalkan puasa tapi kita tidak mengetahui. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita mempelajari apa saja yang dapat membatalkan puasa. Secara umum puasa adalah menahan hawa nafsu maka jika hawa nafsu diperturutkan saat bulan puasa tentu saja puasanya batal !. diantaranya :


Pertama, Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa, adapun kalau seseorang melakukannya dengan tidak sengaja atau lupa, tidaklah membatalkan puasanya. Hal ini adalah perkara diketahui secara darurat dan dimaklumi oleh seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang sangat banyak. Di antaranya adalah ayat dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”


Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ

“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits bagi Imam Muslim)

Dan juga hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
“Siapa saja yang lupa dan ia dalam keadaan berpuasa lalu ia makan dan minum, maka hendaknyalah ia sempurnakan puasanya karena sesungguhnya ia hanyalah diberi makan dan minum oleh Allah.”


Pemahaman dari hadits ini bahwa siapa yang makan dan minum dengan sengaja maka batallah puasanya.
  • Suntikan–suntikan penambah kekuatan berupa vitamin dan yang sejenisnya yang masuk dalam makna makan dan minum.
  • Menelan darah mimisan dan darah yang keluar dari bibir juga merupakan pembatal puasa.
  • Dua point di atas berdasarkan keumuman nash-nash yang tersebut di atas.

Kedua, Muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa, adapun kalau muntah dengan tidak sengaja tidak membatalkan. Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’, beliau berkata :

مَنِ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ
“Siapa yang sengaja muntah dan ia dalam keadaan berpuasa maka wajib atasnya untuk membayar qodho` dan siapa yang tidak kuasai menahan muntahnya (muntah denga tidak sengaja,-pent.) maka tidak ada qodho` atasnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang shohih)

Ketiga, Haid dan nifas.


Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau menyatakan :

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Adalah hal tersebut (haid,-pent.) menimpa kami dan kami diperintah untuk meng-qodho` puasa dan tidak diperintah untuk meng-qodho` sholat.”

Keempat, Bersetubuh / Jima'


Berjima’ dengan pasangan di siang hari bulan Ramadhan membatalkan puasa, wajib mengqodho’ dan menunaikan kafaroh. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat:
(1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan
(2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.
Jika seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun tetap nekad berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka ia hanya punya kewajiban qodho’ dan tidak ada kafaroh.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”(Mutafa'alaih)

Menurut mayoritas ulama, jima’ (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan atau dubur) bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qodho’, ditambah dengan menunaikan kafaroh. Terserah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jima’ oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Namun yang nanti jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan apakah keduanya sama-sama dikenai kafaroh.

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kafaroh, yang menanggung kafaroh adalah si pria. Alasannya, dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kafaroh sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kafaroh, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kafaroh adalah hak harta. Oleh karena itu, kafaroh dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar.

Kafaroh yang harus dikeluarkan adalah dengan urutan sebagai berikut.

a) Membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat.
b) Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut.
c) Jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapatkan satu mud (kurang lebih 6,75 ons) makanan.

Jika orang yang melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhan tidak mampu melaksanakan kafaroh di atas, kafaroh tersebut tidaklah gugur, namun tetap wajib baginya sampai dia mampu. Hal ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan bentuk utang-piutang dan hak-hak yang lain. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah.


Keenam, obat tetes telinga 

Mazhab Al-Hanabilah dan mayoritas Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa dia membatalkan puasa karena cairannya sampai ke otak. Sementara sebagian Asy-Syafi’iyah seperti: Abu Ali As-Sinji, Al-Qadhi Husain, Al-Faurani dan yang benarkan oleh Al-Ghazali bahwa dia tidak membatalkan puasa.
Ini adalah mazhab Ibnu Hazm dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, serta Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu Al-Utsaimin dari ulama belakangan. Mereka mengatakan bahwa apa yang masuk ke telinga tidak sampai ke tenggorokan dan lambung.
[Al-Majmu’: 6/314-315, Al-Mughni: 3/16, Al-Muhalla: 4/348, dan Fatawa Ramadhan: 2/509-511]



Ketujuh, onani 


Imam Empat dan mayoritas ulama berpendapat bahwa onani membatalkan puasa, karena dia dihukumi tidak meninggalkan syahwatnya. Ini yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.
Sementara Ibnu Hazm berpendapat bahwa itu tidak membatalkan puasa karena tidak adanya dalil yang menunjukkan batalnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani dan Syaikh Al-Albani -rahimahumullah-.

Wallahu a’lam, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat Ibnu Hazm, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas sekedar keluarnya mani bukanlah pembatal puasa -walaupun puasanya makruh-. Kembali ke hukum asal, puasa seseorang tidaklah batal kecuali ada dalil tegas yang menyatakannya.

Kedelapan, Berbuat maksiat

Imam Al-Auzai berpendapat bahwa gibah itu membatalkan puasa, sementara Ibnu Hazm menyatakan bahwa semua maksiat itu sama hukumnya dengan gibah, yaitu membatalkan puasa.
 Keduanya berdalil dengan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya serta kejahilan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)

Juga hadits Abu Hurairah secara marfu’, “Betapa banyak orang yang berpuasa sedang dia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali haus.” (HR. An-Nasai dan Ahmad)

 Sementara seluruh ulama lainnya berpandapat bahwa maksiat tidak membatalkan puasa, dan inilah pendapat yang benar. Adapun pendalilan mereka dengan kedua hadits di atas, Imam nawawi menyatakan, “Teman-teman semazhab kami telah menjawab hadits-hadits ini: Bahwa yang dimaksudkan dengan hadits ini adalah bahwa kesempurnaan puasa dan keutamaannya yang dicari, itu hanya bisa didapatkan dengan menjaga lisan dari ucapan sia-sia dan ucapan yang rendah, tidak menunjukkan bahwa puasanya batal.”


Meskipun puasanya tidak batal akan tetapi sia-sia karena pahalanya hangus oleh maksiat yang dilakukan.

Ref:
1. muslim.or.id
2. al-atsariyah.com
3.an-nashihah.or.id

Tuesday, 24 July 2012

Pendidikan Islam : Rusaknya moral remaja, Awal kiamat suatu bangsa

Melihat kenyataan bangsa indoensia dewasa ini tentu saja kita sangat prihatin dan hanya bisa merenung tidak bisa mengubah kenyataan yang ada karena memang kita makhluk kerdil tidak berdaya, hanya kepada Allah saja kita berharap karena dialah yang Maha Kuasa. Kita umat islam adalah segelintir makhluk dimuka bumi yang masih peduli dengan peradaban sosial dan akhlaq manusia. Kita telah melihat dalam berbagai media masa dan elektronik maupun kita lihat langsung tentang kerusakan moral generasi muda khusunya umat  islam yang semakin maburadul bukannya semakin membaik. Berbagai macam perilaku kenakalan moral remaja bahkan telah mencapai level krimininal bukan sekedar "nakal" lagi. Dari yang kecil-kecil sudah berani pacaran, yang remaja udah banyak yang melakukan kumpul kebo (free sex), mabuk, tawuran, narkoba, durhaka kepada orang tua dan guru dan sebagainya. Itu baru segelintir masalah kriminal remaja belum lagi masalah korupsi, "suap menyuap", angka kemiskinan yang semakin menajam, penindasan penguasa oleh rakyat kecil dan sebagainya. 


Bahkan pada bulan romadhon pun seperti sekarang ini banyak ABG kurang pendidikan moral melakukan sex bebas dengan tidak malu dan tidak memandang resiko yang sangat besar. Padahal jika kita pandang dari sisi agama islam pezina itu dihukum berat apalagi saat bulan suci romadhon berani melakukan zina padahal bulan romadhon ini jika melakukan amal shalih maka akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat. 


Begitu sebaliknya, pelaku maksiat atau dosa besar akan mendapatkan ganjaran dosa yang berlipat juga. Itu artinya generasi sekarang tidak hanya rusak moralnya saja tetapi juga sudah rusak agamanya bahkan sampai tingkat level tidak mengenal Allah Buktinya mereka sudah tidak memperdulikan bulan suci romadhan, bulan puasa atau tidak mereka tidak malu melakukan maksiat., naudzubillah. Padahal orang jahiliyah dulu saja sangat menghormati bulan bulan suci ini. dan jika manusia sudah tidak bisa mengenal siapa Tuhannya sudah pasti dia akan mengenal setan sangat dekat. sehingga setan akan mudah memperdaya mereka karena kedekatan mereka dengan bangsa syaiton. Bahkan pada bulan romadhon ini setan tidak dibiarkan membujuk rayu manusia, tetapi masih ada segelintir manusia yang berani durhaka dibulan ramadhan ini. Itu artinya setan tidak usah repot-repot menggoda manusia lagi karena manusia sudah sukarela melakukan maksiat dengan sendirinya.


Kehancuran moral sama dengan kehancuran peradaban manusia 


Kita khawatir kondisi yang menimpa kita saat ini adalah awalnya kehancuran negeri ini. Fakta sejarah telah mengungkap penyebab kehancuran suatu kaum adalah karena hancurnya moral penguasa dan warganya. Kaum luth hancur karena perilaku sodomnya, kaum tsamud hancur karena kesombongan mereka, Romawi hancur karena kebejatan moral, dinasti Umayyah dan Abbasiyyah lenyap begitu saja di kawasan Laut Tengah, kota-kota muslim Andalusia jatuh karena pemimpinnya terlena oleh duniawi, Majapahit runtuh karena rakusnya generasi penerus, dan banyak lagi negeri lainnya yang intinya mengalami kehancuran karena kebejatan moralnya.


Berawal dari kebejatan moral penguasa


Mungkinkah negeri ini akan hancur? Mungkin, sebab sudah menjadi rahasia umum kebejatan moral yaitu korupsi di negeri ini mengakar pada pemimpin dan penguasanya, sehingga warganya pun tanpa sadar dan tanpa merasa bersalah ikut dalam budaya korupsi ini. Kita tidak tahu seperti apa kehancuran besarnya akan terjadi, tapi kita bisa melihat kondisi-kondisi kecil yang sedang terjadi.


Konflik etnis seperti tak pernah selesai, metoda otonomi daerah (atau konsep federasi) yang bertujuan mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika sepertinya dijadikan alat untuk memisah-misahkan diri sebagai arogansi suku atau daerah, saling ketergantungan bergeser menjadi sikap kesombongan terhadap kelebihan sumber daya masing-masing. Negeri yang dikenal dengan seribu lautan namun minim dalam sarana dan prasaran maritim, baik untuk pengolahan kekayaan alam maupun sistem transportasinya. Negeri dengan potensi kekayaan alam yang sangat tinggi tapi berutang banyak.


Belum lagi masalah masalah kerusakan generasi muda jaman ini. Padahal jika generasi hari ini sudah rusak bagaiman generasi selanjutnya? tentu saja lebih rusak lagi. Akan tetapi hal itu hanya sekedar topik pembicaraan dikoran-koran dan tidak pernah pemerintah ambil tindakan mengenai masalah ini karena sibuk dengan idealisme politiknya dan korupsi yang tak pernah selesai diusut.



Apa kita tak pernah belajar pada fakta sejarah? Kita belajar tapi kita tak pernah mengimplementasikan dan mencegahnya. Kerakusan pribadi atau golongan mengeksploitasi kekayaan negeri untuk kepentingan sendiri. Kita tak akan pernah maju dan bertahan seperti Jepang dan Cina yang memiliki moral yang tinggi. Mereka punya militansi yang tinggi terhadap negerinya, tidak hanya pada saat keamanan dirongrong pihak lain, namun dalam kehidupan sehari-hari di masa damai.


Kita pernah punya konsep strategi Repelita Orde Baru –yang menurut saya yang bodoh– yang bagus, kita melihat hasilnya selama 25 tahun terakhir kemajuan terlihat nyata, namun sayang konsep yang bagus dikotori oleh moral korupsi yang tinggi. Kini penguasa pencetus Repelita tersebut hancur, namun sayang sejuta sayang konsep yang bagus tersebut tidak ditindaklanjuti, seolah-olah yang bagus menjadi jelek hanya karena keluar dari pikiran pemimpin atau penguasa yang telah dicap jelek.


Negeri ini diguncang dari dalam oleh pemimpin-pemimpinnya, dirongrong oleh negeri tetangga karena dianggap tidak becus memberdayakan wilayah potensial, tak lupa dipukul keras oleh alam akhir tahun lalu.


Wahai penguasa
Beri kami optimisme!
Segarkan nasionalisme kami!
Jangan kau hancurkan negeri kami!
Untuk sebuah cita-cita
بلدة طيبة ورب غفور


“Negeri yang baik dalam lindungan Tuhan Yang Mahapengampun” (QS Saba 34:15)


Yaitu negri dalam naungan syari'at islam dan segala aspek kehidupan menganut tuntunan islam. Itulah jalan kedamaian yang abadi. Karena Allah takkan ridha jika kita umat islam masih menganut hukum hawa nafsu yang merusak itu. dan sistem kita dalam berbagai bidang saat ini telah dikuasai sistem setan / sistem hukum hawa nafsu.


Wallahu'alam


Refrensi

Sunday, 22 July 2012

Amalan Yang Memasukan kedalam Surga (Bag. 2)


KESEBELAS, TIDAK MEREMEHKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN DAN BERLAKU BAIK KEPADA SEMUA MAKHLUK ALLAH SWT (Manusia, Hewan, Tumbuhan dan Alam Sekitar)



Memang Islam adalah agama yang tidak saja mengajarkan amalan ibadah saja tetapi juga sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Oleh karena itu dalam pertemuan ini kita akan membahas bagaimana islam mengajarkan kepada kita supaya tidak meremehkan kebaikan sekecil dan seremeh apapun. Karena barangkali dengan kebaikan yang kecil itu ternyata yang malah memasukkan kita kedalam surga. Kepada Hewan yang najis saja (misalnya anjing) kita tidak boleh berbuat sewenang-wenang apalagi kepada manusia (meskipun kafir tetapi tidak memusuhi islam). Itulah ajaran islam sebenarnya. Ajaran yang sangat mulia yang datang dari langit yang berasal dari Allah SWT melalui rasul-rasul-Nya.


Dalam suatu cerita rasululullah pernah menyebutkan bahwa seorang pelacur saja bisa masuk kedalam surga hanya karena dia menolong anjing yang hampir mati kehausan. Disebutkan dalam satu riwayat hadits diceritakan. Pada suatu hari, dalam suatu majelis, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, 



“Wahai, Rasulullah. Apakah hanya orang-orang ahli ibadah saja yang akan masuk surga?”

Dengan tegas Rasulullah menjawab, “Tidak. Sesungguhnya, seseorang itu masuk surga bukan semata-mata karena ibadahnya, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah.”

Penasaran, orang itu bertanya lagi, “Apa itu berarti… hanya para aulia dan alim-ulama saja yang akan masuk surga?”

Rasulullah kembali menegaskan, “Tidak, bukan begitu. Karena sesungguhnya telah ada seorang pelacur yang masuk ke surga.” Keruan saja semua yang hadir di majelis itu jadi kaget dan bertanya-tanya. Maka Rasulullah lalu menceritakan mengenai pelacur itu.

Suatu hari, di tengah suatu musim kemarau yang amat kering, tutur Rasulullah, ada seekor anjing liar yang hampir mati kehausan. Anjing ini amat buruk rupanya dan penuh kudis badannya. Karena amat hausnya, anjing itu sampai menjilat-jilat tanah lembab di depan rumah seorang ulama terkenal. Melihat makhluk menjijikkan itu, si ulama segera mengusirnya dan bahkan melemparinya dengan batu. Pelacur dan anjing kurap adalah ciptaan Allah yang Maha Pengasih, maka kasihilah sebagaimana Allah juga mengasihi mereka. Anjing itu lari ketakutan sampai ke luar desa, dan akhirnya – karena lelah dan kehausan – hewan malang itu ambruk di pinggir sumur. Nampaknya, tak ada harapan lagi buat anjing itu. Dia pasti mati kalau tidak segera mendapatkan minum.

Namun di saat kritis itu, lewat seorang pelacur. Ia melihat anjing itu, terbaring putus asa dengan lidah terjulur dan napas tersengal-sengal, dan ia merasa iba. Maka, ia lalu melepas terompahnya (alas kakinya) dan merobek gaunnya. Dengan sobekan gaun dan terompah itu ia lantas membuat timba untuk mengambil air dari sumur, lalu memberi anjing itu minum.

Setelah puas minum, anjing itu sehat kembali dan lantas pergi. Si Pelacur merasa gembira melihat anjing itu tidak jadi mati kehausan. Melihat apa yang telah diperbuat oleh hamba-Nya yang pelacur itu, Allah mengatakan kepada malaikatnya: “Catatlah hamba-Ku itu. Dia adalah salah satu hamba-Ku yang akan masuk surga pertama.”



Itulah, betapa indahnya akhlaq mulia. Akhlaq mulia tidak harus dimiliki seorang alim. Bahkan seorang alimpun dalam cerita tadi bisa kalah kebaikannya oleh seorang yang dianggap hina (pelacur). Padahal berzina adalah termasuk dosa besar jika pelakunya tidak segera bertaubat maka terancam masuk neraka jahanam. Akan tetapi karena didalam tubuh yang hina ternyata tersimpan kecantikan yang sesungguhnya yaitu akhlaq mulia. Sehingga Allah SWT mencintai hamba tadi kemudian memberikan balasan berupa surga. Subhanallah wallahu akbar, betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kita juga dapat mengambil pelajaran. Masuk surga bukanlah hak hamba tapi itu adalah hak Allah untuk menentukan takdir seorang hamba dineraka atau surga. Seorang alim pun bisa masuk neraka karena menyalah gunakan ilmunya, dan seorang ahli maksiat bisa masuk surga karena mulia akhlaqnya. Itulah kehidupan dunia ini. Makanya kita tidak bisa menganggap diri yang hina ini masuk surga. Akan tetapi kita hanya bisa mengharap rahmat Allah yang Maha Agung. Dengan tawakal semampu kita diiringi kebaikan akhlaq mulia.

Dan ada hadits lain yang senada dengan maksud cerita tadi. Yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori sebagai berikut



 "Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Ketika seorang laki-laki berjalan ia mengalami dahaga yang sangat luar biasa. Lalu ia turun ke dalam sumur, minum airnya, lalu naik keluar. Tiba-tiba ia dapati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia berkata (dalam hati): anjing ini telah kehausan seperti kehausan yang aku alami. Lalu ia kembali turun ke dalam sumur, ia penuhi sepatunya dengan air, ia pegang dengan mulutnya, lalu diberikan minum untuk anjing itu. Allah membalasnya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah apakah kita mendapatkan pahala dari hewan-hewan ternak kita? Jawab Nabi: Dalam setiap hati yang basah terdapat pahala. (HR Al Bukhari)



Kemudian dalam hadits yang lainnya yang mengajarkan kepada kita supaya tidak meremehkan kebaikan meski sebutir debu.

 “Dari ‘Adiy bin Hatim RA berkata: Nabi Muhammad saw pernah menyebutkan tentang neraka, kemudian berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka lalu berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka dan berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Syu’bah berkata: kemungkinan dua kali, lalu saya tidak ragu. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Takutlah neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (HR Al Bukhari)



Lalu dalam hadits lain disebutkan juga supaya kita jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun.Dari Abu Hurairah r.a, “Telah bersabda Rasulullah saw, Ada seorang  laki-laki sedang naza’ (dalam kondisi sakaratul maut), ia tidak pernah mengerjakan kebaikan, (kecuali) sekadar menyingkirkan ranting berduri dari jalan; ada kalanya ranting itu berada di atas pohon lalu dipotong, kemudian dibuangnya (jauh), dan ada kalanya ia sengaja dipasang (di tengah jalan) lalu disingkirkannya. Kemudian karenanya Allah berterima kasih kepadanya, lalu dimasukkanlah ia oleh-Nya ke surga.” (HR. Imam Abu Daud, Imam Ibnu Hibban dengan derjajat shahih). 



Oleh karena sangat penting nya berbuat baik maka tak pantas seorang muslim meremehkan secuil kebaikan sebagai realisasi dari ajaran islam misalnya menyingkirkan bahaya dari jalan, sedekah kepada pengemis, mengucapkan salam, bertutur kata yang lemah lembut dan sebagainya. Karena masuk surga tidak didominasi oleh alim ulama yang paham ilmu agama saja akan tetapi didominasi oleh orang sabar dan orang yang banyak kebaikan akhlaqnya. Ingatlah ilmu memang salah satu sarana masuk surga tapi tidak berguna jika tidak diamalkan. Apalagi bisa jadi bumerang jika kita tidak bisa menjaganya dengan akhlaq mulia. Akan lebih buruk jika diperparah lagi dengan penyakit sumber kemusnahan amal yaitu penyakit riya'/gila popularitas. Karena dalam suatu hadits muslim sebutkan Dari Abu Hurairah; Abdurrahman bin Shakhr , berkata; Aku mendengar Rasulullah bersabda; 

Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid.Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Dan kau telah disebut sebagai pemberani Kemudian Allah memerintahkan (malaikat) untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
(HR Muslim)



Banyak orang masuk surga karena ilmunya digunakan untuk menegakkan agama islam. Tetapi banyak juga orang yang paham agama tetapi untuk kepentingan duniawi. Itulah yang akan menjadi bumerang diakhirat. Begitulah bahaya penyakit riya' karena menghancurkan kebaikan dengan sia-sia. Dan penyebab seorang yang berbuat baik malah jadi masuk neraka, Naudzubillah. 



KEDUABELAS, TIDAK MEMINTA DI KAY (semacam cara pengobatan), MINTA DIRUQYAH, TIDAK PERCAYA DUKUN DAN PERAMAL. SENANTIASA BERTAWAKAL HANYA KEPADA ALLAH SWT



Siapakah yang tidak ingin masuk surga tanpa hisab sedikitpun? Tentu saja tidak ada. Namun kriteria itu berat sekali untuk menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang seberuntung orang yang masuk surga tanpa hisab. Kita harus banyak-banyak bertawakal kepada Allah dalam menjalani segala ujian dan cobaan didunia, kemudian kita tidak meminta diruqyah dan dikai, kemudian orang-orang yang pernah berbuat syirik dan percaya ramalan-ramalan tidak akan termasuk dalam golongan tersebut. Disebutkan dalam hadits shahih bahwa akan ada 70.000 orang beriman yang paling beruntung yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab dan azab. 



Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

"Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: 'Ini adalah Musa dan kaumnya,' lalu dikatakan, 'Perhatikanlah ke ufuk.' Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.' Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, 'Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, 'Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.' Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, 'mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal." [HR. Bukhari 8270]



Tentang wujud mereka mereka diakhirat, disebutkan dalam hadits lainnya adalah dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari berikut :

 "Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama." [HR. Bukhari]

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan." [HR. Bukhari]



Tapi kita jangan berkecil hati dulu. Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, dia berkata,  :

"Rabbku 'Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah 'Azza wa Jalla."



Marilah kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta'ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab. Kalau pakai perhitungan matematika adalah sekitar 70.000 x 70= 4.900.000, subhanallah jumlah yang besar ada hampir 5 juta orang yang masuk surga tanpa hisab (wallahu’alam)

 Oleh karena itu saudaraku jika kita menginginkan surga maka kita wajib bertawakal kepada Allah SWT semampu kita, jangan suka mencari cara-cara instan yang merusakkan akidah kita seperti percaya ramalan-ramalan, dukun-dukun, klenik, jimat-jimat dan sebagainya. Begitu juga dengan meminta diruqyah untuk memudahkan urusan hidup kita, sebenarnya ruqyah itu diperbolehkan namun hal itu akan menghambat kita dalam penghisaban amalan kita diakhirat. Memang sebaik-baik manusia adalah yang bertawakal kepada Allah dengan sabar. Oleh karena itu dia berhak mendapatkan surga tanpa penghisaban, subhanallah.



KETIGA BELAS, MENGHAFAL, MENGHAYATI DAN MENGAMALKAN ASMAUL HUSNA



Dalam suatu hadits disebutkan :

“Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.” ( HR. Bukhari) .



Makna hadits ini adalah  kita  mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu. Tidak sekedar menghafal diluar kepala namun tanpa penghayatan dan pengamalan sama sekali. Kebanyakan kaum muslimin sekarang adalah sibuk dzikir asmaul husna namun terkadang tidak paham apa yang dia baca kemudian tidak ia realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau sekarang ia baca asmaul husna tetapi dalam praktik kehidupanya malah bertentangan dengan yang ia baca. Seseorang  pernah membaca dan paham bahwa “tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Yang Maha Kuasa”. Namun sayang sekali dia mengotorinya dengan amalan-amalan syirik seperti ngalap berkah dikuburan wali dsb. Itu artinya perbuatannya sudah mengingkari bahwa Allah itu yang Maha Kuasa, karena dia masih percaya bahwa wali bisa mendatangkan berkah seperti yang Allah kehendaki. Oleh  karena itu percaya kepada kuburan wali, ramalan, jimat dsb adalah perilaku yang bertentangan dengan amalan asmaul husna. Apalagi yang lebih nyeleneh adalah jika ada seseorang muslim menulis asmaul husna didalam kertas kemudian kertas itu dijadikan jimat untuk pesugihan, kesaktian, penglarisan dsb. 



Asmaul husna adalah 99 nama Allah SWT dengan segala keagungannya. Apabila kita memahaminya maka akan jelas bahwa semua nama itu mengajarkan Tauhid dan segala-gala urusan hanya Allah yang mampu mengurusinya. Kemudian kita tidak bergantung kepada selainnya, senantiasa bertawakal dan berdo’a untuk urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah. Oleh Karena itu pantas jika seseorang yang berusaha menghafal, memahami dan mengamalkan asmaul husna pantas mendapatkan surga karena dia telah merealisasikan Tauhid dengan sebenar-benarnya. Padahal Tauhid itu adalah kunci utama untuk masuk kedalam surga-Nya.



KEEMPAT BELAS, ORANG YANG BERSABAR KETIKA KEHILANGAN 3 ANAK (belum baligh) YANG SANGAT IA CINTAI



Siapakah orang yang bisa menerima dengan ikhlas ketika ia dikaruniai buah hati yang masih kecil yang membahagiakan hidupnya, tertawa buah hati menceriakan wajahnya,  lucunya sang buah hati menghilangkan kepenatan hidupnya. kemudian buah hati itu dipanggil oleh Allah SWT selama-lamanya, tentu saja jarang yang mampu bersabar tentang ujian berat satu ini. Namun kita harus berusaha sabar karena itu adalah salah satu amalan yang dapat memasukkan kita kedalam surga. Diriwayatkan dalam sebuah hadits sahih oleh ibnu majjah bahwa orang yang kehilangan anaknya (ditinggal mati) yang belum baligh (masih bayi, balita, kanak-kanak) maka dia berhak mendapatkan pilihan masuk surga dari pintu-pintu surga mana saja ia kehendaki. Berikut sabda rasulullah saw tentang hal tersebut ;

"Tiada seorang muslim yang meninggal dari anaknya tiga orang yang belum baligh kecuali mereka akan menemuinya dan ia akan masuk dari pintu surga yang delapan dari mana saja yang ia kehendaki".

( HR riwayat Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib, no: 1993)



KELIMA BELAS, ORANG YANG BERJUANG DIJALAN AGAMA (MUJAHID)



Siapakah yang tak kenal generasi pertama Rasulullah saw dan para sahabatnya yang dimuliakan Allah. Mereka adalah pahlawan-pahlawan sesungguhnya, rela mengorbankan harta, jiwa dan raga hanya untuk kedamaian dunia dibawah panji islam yang mulia. Merekalah teladan kita sebenar-benarnya. Akhlaq mereka yang amat mulia selaras dengan perkataan dan perbuatan mereka. Mereka tidak mengeluh tentang perjuangan umat islam, mereka selalu semangat berjuang melawan kemungkaran, kemaksiatan dan kesesatan yang membuat umat manusia sengsara. Merekalah para pejuang islam sesungguhnya mereka adalah pasukan Mujahid yang berhak mendapatkan surga-Nya. Barangsiapa yang meneladani kegigihan dan semangat kepahlawanan mereka membela islam dan hak kaum muslimin yang tertindas maka dia berhak mendapatkan balasan berupa surga. Ini adalah kesempatan kita apalagi yang masih muda-muda , yang masih punya semangat dan kekuatan yang besar. Selama kita masih hidup didunia, carilah ilmu agama dan dakwahkan kepada umat islam semuanya, kemudian berjuanglah membela harkat dan martabat umat islam. Itulah jihad yang sebenar-benarnya, bukan sekedar teriak “ayo jihad”. Namun dia sendiri suka menggembosi perjuangan umat islam lainnya dengan lidahnya yang tidak diatur dengan mencela umat islam lainnya diluar golongannya, atau dengan akhlaqnya yang kurang bagus terhadap kaum muslimin umumnya. 



Karena jaman sekarang ini banyak pemuda-pemuda yang semangat berjihad namun ilmu dan kesadaran mereka tentang agama islam masih cetek sehingga sambil teriak jihad mereka juga sombong mengatakan merekalah generasi terbaik (ghuroba) yang akan mengibarkan bendera tauhid namun disisi lain akhlaq mereka kurang bagus terhadap sesamanya. Bahkan seenaknya mengebom tempat-tempat maksiat tanpa nasehat yang bijak kepada mereka (ahli maksiat) terlebih dahulu, sehingga terkadang umat islam tidak berdosa jadi korbannya juga. Karena menasehati manusia dalam agama termasuk jihad juga karena dia telah membela hak agama, kemudian jika dengan cara-cara halus tidak bisa maka dengan cara paksa misalnya pembubaran tempat-tempat maksiat, jika tidak bisa juga maka dengan cara yang terakhir yaitu dengan meneriakkan perang kepada mereka. Itupun tugas mereka yang telah mampu berjihad dalam hal itu yaitu perang, seperti aparatur organisasi islam memang tugasnya untuk memberantas kemaksiatan dilingkunannya. Sedangkan kita yang hanya mampu keilmuan tidak mampu kekuatan maka jihad dakwah adalah salah satu tugas kita. Jika kita tidak mampu juga kedua-duanya maka cukuplah kita ingkari maksiat itu dalam hati kita. Sebagaimana sabda rasululullah saw bahwa ada tingkatan-tingkatan umat islam dalam berjihad yaitu jihad perang, jihad lisan dan jihad hati dalam memerangi maksiat :

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka (ubahlah) dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka (ingkarilah) dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim (49)]



Begitulah saudaraku, jihad itu ada tingkatannya, tidak langsung ba bi bu lalu mengebom sana sini yang justru membuat hati umat islam jadi resah. Padahal islam itu mengajarkan kedamaian dan ketentraman bukan mengajarkan kekacauan. Jihad dan akhlaq mulia keduanya tidak bisa dipisahkan, karena syarat untuk menjadi mujahid islam yang sesungguhnya adalah mempunyai pemahaman tentang agama yang lurus dan akhlaq yang mulia. Sehingga perjuangannya tidak salah langkah. Orang yang seperti ini sangat dimuliakan Allah karena dia adalah orang benar-benar mau membela agama atau membela hak Allah dan Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin umumnya. 



Dalam suatu hadits rasulullah saw pernah bersabda :

"Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang telah Allah sediakan untuk para mujahid di jalan-Nya, setiap dua tingkatan jarak antara keduanya laksana antara langit dan bumi, jika kalian memohon kepada Allah maka mintalah surga Firdaus, sesungguhnya letaknya di tengah dan di tingkatan tertinggi dari surga dan
di atasnya 'Arsynya Allah Yang Maha Luas Rahmatnya, darinyalah terpancar sungai-sungai surga".
 

(HR Bukhari)



KEEMPAT BELAS, ANAK SHALIH YANG BERDOA UNTUK MEMINTA AMPUNAN BAGI KEDUA ORANG TUANYA



Ketika seseorang sudah berumah tangga kemudian mempunyai keturunan, maka pada saat itu jua dia telah berubah statusnya menjadi seorang orang tua yang mempunyai tanggung jawab kepada anak-anaknya tidak hanya nafkahnya saja tetapi juga pendidikan mereka. Dari sejak baru lahir sampai usia baligh adalah masa paling sensitif dalam hal meniru. Oleh karena itu tindak tanduk orang tua selalu ditiru oleh anak, jika orang tua rajin shalat dan baca qur’an maka anak juga akan ikut seperti orang tuanya, jika dilakukan hal sia-sia seperti menonton televisi, main catur dsb. Maka anak kita juga akan seperti itu, maka jangan mengharapkan anak sholeh jika perilaku kita saja tidak mencerminkan apa yang sering kita perintahkan kepada anak yaitu seperti menyuruh shalat, menyuruh mengaji, menyuruh belajar dsb tetapi kita sendiri malah santai-santai dengan istri nonton sinetron. Padahal anak shalih adalah investasi paling besar dari orang tua setelah ia meninggal, karena dalam suatu hadits menjelaskan bahwa anak yang mendo’akan ampunan untuk kedua orang tuanya secara rutin maka hal itu dapat menyebabkan keduanya masuk surga, bahkan mendapatkan tingkatan surge yang lebih tinggi. berikut sabda Rasulullah saw : 



"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla benar-benar akan mengangkat kedudukan untuk seorang hamba yang shalih di dalam surga, lalu ia bertanya; "Wahai Allah, bagaimanakah saya mendapatkan ini?", kemudian dijawab: "Karena istighfar anakmu untukmu".

(HR Ahmad dan dihasankan oleh Al Albani di dalam As Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no: 1598)



Anak shalih yang mendo’akan ampunan bagi orang tuanya adalah salah satu investasi akhirat , yaitu amalan yang tidak terputus sampai hari kiamat walaupun kita telah meninggal. sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih berikut ini :



Daripada Abu Hurairah Radhiallahu anhu katanya,, Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).



Kemudian juga dalam hadits lain ''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Al-Quran, masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (HR Ibn Majah).



KELIMA BELAS, JUJUR, MENEPATI JANJI, AMANAH, MENJAGA KEMALUAN DAN MENUTUP AURAT, MENJAGA PANDANGAN DAN MENJAGA ANGGOTA BADAN DARI HAL-HAL YANG MERUGIKAN.



Dalam suatu hadits ada 6 amalan yang dapat memasukkan kedalam surga dengan jaminan Rasulullah saw. Namun amalan-amalan ini berat dilakukan kecuali orang yang sabar dan ikhlas menjalankannya. Berikut sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :

Jaminlah untukku 6 hal darimu, aku jaminkan surga untukmu; 1) jujur jika berbicara, 2) tepatilah jika berjanji, 3) laksanakan amanah jika dipercaya, 4) jagalah kemaluanmu –tutuplah aurot-, 5) jagalah pandanganmu –dari yang haram-, dan 6) jagalah tanganmu (dari hal yang merugikan -pen-)”( HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi)



Dijaman akhir yang serba kompleks ini semakin hari semakin sulit orang yang jujur dan sungguh-sungguh dalam berkata-kata karena katanya jika tidak jujur yang didapat kerugian, mungkin barangkali rugi perasaan atau rugi materiil. Akan tetapi sebesar-besar apapun kerugian didunia tidak sebanding apapun dengan seringan-ringan kerugian diakhirat. Begitu juga semakin banyaknya orang yang mudah berjanji namun tidak menepatinya hanya membuat orang lain berharap-harap kemudian berakhir dengan kekecewaan. Semakin banyak pula jaman sekarang ini orang yang suka meremehkan amanah bahkan menyelengkan amanah untuk mengeruk keuntungan materi yang sedikit. Seperti apa yang dilakukan oknum-oknum politik yang mengkorupsi uang rakyat. Semakin banyak pula wanita-wanita yang tidak mau menutupi auratnya atau tidak mau pakai jilbab dengan berbagai alasan, apalagi mungkin hanya tidak mau dikatakan ketinggalan jaman karena ikut-ikutan tren barat. Semakin banyak pula orang-orang yang tidak malu lagi mengumbar matanya ditempat-tempat umum hanya sekedar untuk cuci mata melihat aurat perempuan, apalagi jaman  sekarang aurat perempuan bukan hal yang mahal lagi karena dimanapun dijalan-jalan, iklan reklame, iklan televisi, media elektronik, terlebih lagi diinternet orang mudah sekali menonton aurat perempuan apalagi jaman sekarang semakin marak situs porno. Semakin banyak pula tangan-tangan jahil yang tidak bisa menjaga diri dari merugikan orang lain seperti mencuri, merampok, mengambil hak milik orang lain tanpa ijin terlebih lagi sedang marak korupsi. 



Hal itu semakin sulit bagi anak-anak kita untuk menemukan keteladanan dari orang-orang dijaman sekarang. Namun bagi kita orang tua yang sadar akan kehidupan akhirat maka kita tidak boleh mengikuti kebanyakan yang orang lakukan hari ini. Memang resikonya dikucilkan, dirugikan, disakiti, dicaci maki dan sebagainya. Itulah jaman sekarang yang baik dijauhi yang jelek dibela. Tapi sabarlah dan berbahagialah wahai saudaraku karena barangsiapa bisa mengamalkan amalan-amalan tersebut semampu kita maka Rasulullah saw telah menjaminkan surga bagi kita. semoga kita termasuk orang yang mampu mengamalkan hal itu.



KELIMA BELAS, MUDAH MEMAAFKAN DAN SUKA MENYAMBUNG SILATURAHIM



Teladan kita Rasulullah saw  adalah orang yang paling pemaaf dari yang pernah ada. Karena beliau diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlaq islam yang sesungguhnya salah satunya adalah sifat pemaaf.  Setiap manusia pasti pernah berbuat salah baik kecil maupun besar. Maka seringan-ringan pertanggungan jawabnya adalah Meminta maaf dan memaafkan. Namun hal itu adalah perbuatan yang sulit sekali dilakukan kecuali oleh orang mukmin yang sabar dan ikhlas. Karena untuk meminta maaf kita membutuhkan kesabaran untuk melakukannya karena jangan-jangan jika kita meminta maaf justru malah dapat caci maki, umpatan , hukuman dsb. Kemudian juga yang dimintai maaf haruslah orang yang lapang dada dan ikhlas menerima perbuatan zalim dari saudaranya. Dan dua hal itu memang sulit dilakukan. Sehingga tidak heran jika kita mampu memiliki kedua sifat itu yaitu mudah meminta maaf dan mudah memaafkan maka hal itu menjadi jaminan kita untuk masuk surga.



Memaafkan adalah kata yang singkat namun sulit diucapkan oleh orang yang dizalimi kepada orang yang menzalimi. Tetapi siapakah yang tidak mau masuk surga? Maka mudah memaafkan adalah salah satu amalan yang diridhai Allah SWT yang dapat memasukkan kita kedalam surg-Nya.Rasulullah bersabda:

 “Barangsiapa melakukan tiga hal berikut ini, ia akan dihisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmatNya.Pertama, memberi kepada orang yang bakhil. Kedua, silaturahim dengan orang yang memutuskannya. Ketiga, memberi maaf kepada orang yang zalim” (HR AthThabrani)



Terkadang pula kita menemukan antar anggota keluarga atau saudara kita terjadi suatu konflik yang mengakibatkan bercerai berainya tali silaturahim. Jika dibiarkan begitu saja sehingga tali silaturrahim menjadi benar-benar putus maka hal itu sangat berbahaya karena yang muncul adalah dendam-dendaman sehingga bisa  saling benci lebih parah berujung saling membunuh, naudzubillah



Memutuskan tali silaturahim bisa jadi merupakan pemutus jalan menuju surga. Sebaliknya, jika kita mau menyambung tali silaturahim yang telah putus itu maka hal itu kita telah menyambung jalan menuju surga, seperti apa yang disampaikan hadits diatas. Begitu juga sama kasusnya dengan peristiwa suatu konflik suku atau perbedaan ras tertentu, kemudian jika dibiarkan maka akan terjadi dendam berantai dan berujung pada pembantaian antar suku secara turun temurun, seperti kita dulu mengenal pembantaian sampit yang meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi kaum muslimin karena beribu-ribu orang tak berdosa jadi korbannya. Hal itu tidak lain adalah karena dendam yang dibiarkan. Kemudian dendam itu membesar dan sedikit saja ada konflik maka akan meletus besar-besaran. Karena dendam dan benci adalah salah satu hal yang mudah diwariskan kepada anak cucu. Untuk memutus tali kebencian itu diperlukan saling memaafkan antar satu dengan yang lainnya,  maka jika ada pihak atau orang tertentu yang mau menyambung persaudaraan  maka pantaslah karena perbuatan itu dia mendapat hadiah surga dari-Nya.

Islam adalah agama yang lurus yang mengajarkan orang untuk mudah memaafkan orang lain. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al A’raaf:199)



Apakah anda tahu siapakah orang bodoh yang disindir oleh al-Qur’an. Yaitu orang yang  menuruti hawa nafsu amarahnya kemudian sifat egoisme dan tidak mau mengalah mengakar dalam jiwanya. Sehingga yang terjadi adalah dia seorang pendendam yang anti meminta maaf dan memberi maaf. Celakalah orang seperti ini.



KEENAM BELAS, BERSIKAP LAPANG DADA, MENGALAH MESKIPUN BENAR, MENINGGALKAN DUSTA MESKIPUN BERCANDA



Sungguh amat mulia sekali ajaran islam. Karena didalam ajarannya selalu kebaikan dan akhlaq yang mulia. Sifat lapang dada termasuk salah satu sifat penghuni surga. Seiring dengan berjalannya kehidupan tentu saja banyak masalah dan perkara yang terjadi. Sehingga tidak jarang konflik terjadi karena pihak satu dengan yang lainnya sama-sama tidak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak selalu ingin dimenangkan dan menonjolkan keegoisan. Namun apakah perilaku seperti itu dibenarkan agama. Tentu saja tidak. Karena orang yang meninggalkan pertengkaran meskipun di pihak yang benar itulah yang dijanjikan surga oleh Allah SWT dan dijamin oleh Rasulullah saw. Misalnya kita terlibat dalam sebuah masalah kemudian berujung dalam debat kusir yang bila dibiarkan terus menerus tidak akan pernah meruncingkan masalah. Akan tetapi biasanya tindakan saling bersikukuh (dalam bahasa jawa “pating merkenteng”) seperti ini hanya akan menimbulkan masalah lebih besar bahkan bisa jadi pertengkaran. Sehingga masalah kecil menjadi besar dan berujung pada pelanggaran hak-hak kita terhadap saudara muslim. Padahal tindakan melangkahi kehormatan atau menzalimi saudara kita tentu saja diharamkan. Oleh karena itu Islam mengharamkan keras sifat egoisme berlebihan meskipun kita berada dipihak yang benar, apalagi dipihak yang salah.  Dalam suatu hadits disebutkan :
"Aku bertanggung jawab dengan sebuah rumah di hamparan/tepian surga bagi siapa yang meninggalkan pertengkaran meskipun berada di pihak yang benar dan sebuah rumah di tengah surga bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda,serta sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa yang membaikkan akhlaknya". (HR Abu Daud)



Kemudian dalam hadits diatas juga tercantum bahwa meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda juga dijaminkan surga oleh rasulullah saw. Dusta itu meskipun bercanda tetap saja suatu perbuatan tercela yang diharamkan ajaran islam. Jika hal itu kebiasaan maka akan menjadi suka berdusta sungguhan, karena biasanya dari main-main menjadi sungguh-sungguhan. Oleh karena itu janganlah meremehkan sifat dusta. Karena dusta adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Banyak hal buruk dan fitnah-fitnah terjadi karena berawal dari dusta. Tanda kotornya hati manusia adalah seringnya ia berdusta. Dan dusta adalah salah satu sifat penghuni neraka. 



Rasulullah saw bersabda  

“Hendaknya kalian selalu jujur. Sebab, kejujuran itu menghantarkan kepada kebajikan dan kebajikan itu menghantarkan kepada surga. Seseorang akan senantiasa jujur dan berusaha keras untuk jujur sampai dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan waspadalah terhadap dusta. Sebab, dusta itu menghantarkan kepada keburukan/kejahatan dan keburukan itu menghantarkan kepada neraka. Dan seseorang akan selalu dusta dan berusaha keras untuk dusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai kadzdzaab (pendusta)” 

(HR Muslim no. 4721)



Oleh karena itu saudaraku, dari hadits pertama diatas dapat diambil pelajaran mengalah (lapang dada) itu bukan berarti kita kalah, justru kita hakikatnya menang pada akhirnya. Orang yang lapang dada dijanjikan rumah megah ditepian surga, sedangkan orang yang banyak meninggalkan dusta meskipun cuman bercanda dibuatkan rumah ditengah surga (lebih baik dari yang pertama). Kemudian orang yang berusaha membaguskan akhlaqnya dan gemar  berbuat baik kepada sesama maka akan mendapatkan rumah disurga yang paling tinggi. Siapakah yang tak ingin masuk surga, jika demikian marilah kita hindari sifat egoisme, gemar menipu dan mari kita berlomba-lomba memperbagus akhlaq dan perilaku kita. Semoga kita termasuk kaum yang beruntung yang mendapatkan ridha-Nya untuk memasuki surga-Nya yang mulia.

KEDUA PULUH, SABAR DALAM KESUSAHAN DAN RENDAH HATI DALAM KELAPANGAN



Orang mukmin yang sama timbangan amalnya, tapi jika yang satu miskin dan ia sabar atas keadaannya maka ia masuk surga 500 ratus tahun lebih dulu dari orang mukmin kaya dan rajin beramal.

Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kepada Allah dalam hal orang-orang fakir karena pada hari kiamat Allah berfirman: ‘Dimana makhluk-makhluk-Ku?’ para malaikat menjawab: ‘Wahai Rabb kami, siapakah mereka?’ Allah berfirman: ‘Orang-orang fakir yang sabar dan rela terhadap takdir-Ku. Mereka akan Ku-masukkan ke dalam surga.’ Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Kemudian orang-orang fakir itu masuk surga, lalu makan dan minumm, sementara orang-orang kaya masih sibuk dalam penghitungan amal mereka.”

Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang fakir yang berjuang di jalan Allah akan masuk surga sebelum orang-orang kaya, dengan jarak 500 tahun.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Hadits di atas ditakhrij dari A’masy Sulaiman, Hadits ini statusnya hasan gharib 

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang fakir akan masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya, selama setengah hari akhirat, yaitu 500 tahun.”
 (HR Turmudzi, status hadits ini hasan shahih)

Hadits-hadits di atas menunjukkan satu makna bahwa orang-orang fakir akan masuk surga lebih dulu. Dengan catatan, mereka termasuk orang-orang yang sabar, mengabdi kepada Allah, rela dan sabar terhadap kefakiran mereka selama hidup di dunia, sehingga dari lisan mereka keluar kata-kata pujian kepada Allah, bersyukur, dan menghambakan diri kepada Allah. Mereka inilah orang-orang yang akan memperoleh kemuliaan pada hari kiamat, ketika mereka masuk surga. Pada hari kiamat nanti, Allah akan berfirman kepada orang-orang yang sabar terhadap kefakirannya.

“[kepada mereka dikatakan] Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haaqqah: 24)

Makna ayat di atas benar-benar jelas. Artinya, kesusahan yang telah engkau peroleh di dunia karena fakir, benar-benar terasa perih buat kalian. Hal ini bukan cita-cita dan keinginan kalian, tetapi semata-semata atas kehendak Allah. maka mereka ridha dengan takdir Allah swt, akhirnya merekapun dimasukkan kedalam surga atas kehendakNya.

Oleh karena itu marilah kita sebagaimanapun keadaan ekonomi kita, janganlah sampai melalaikan dari agama. Yang kaya tolonglah yang tidak mampu, yang tidak mampu jangan berputus asa dan jangan mengeluh atas takdir maka insyaAllah termasuk orang yang dijanjikan surga yang abadi sentosa. 

Ingatlah rasulullah saw pernah mengatakan dan ulama juga demikian bahwa 'dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin, dan surganya orang kafir, dan akhirat neraka orang kafir dan surga abadi orang mukmin. maka bersabarlah didunia ini sementara, bagaimanakah rasanya menjadi tawanan dipenjara? serasa hidup dineraka begitu bahasa hiperbolanya, itulah yang dialami setiap mukmin yang mengharapkan surga Allah. dunia ini bukan tujuan hidup kita, tapi akhiratlah kampung halaman sebenarnya. Janganlah tertipu janganlah terpedaya akhirat tujuan hidup kita sesungguhnya. harta, tahta, wanita, anak-anak dsb semua yang ada didunia semua itu adalah titipan Allah, mudah sekali Allah mengambil titipanNya dalam hitungan detik, apakah anda pernah melihat tsunami, gempa bumi, angin topan dsb menghancurkan bangunan-bangunan megah dikota kota? begitulah salah satu cara Allah mengambil titipanNya, maka sebagai orang kaya janganlah angkuh dan bangga diri merasa paling disegani dan lainnya, karena ketika anda mati hanya kain kafan yang dibawa. 

setiap mukmin akan masuk surga meski ia berdosa sehingga harus dimasukkan keneraka untuk membersihkan dosa, akan tetapi syaratnya adalah Tauhid dalam mengimani Allah benar.




Wallahu'alam


Bersambung...



sumber refrensi :

 dakwatuna.com,

otakkacau.com

islamqa.com