Saturday, 30 July 2016

10 ALASAN PENTINGNYA BERDAKWAH


Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

                                



PENJELASAN AYAT 


Ayat diatas menjelaskan bahwa manusia senantiasa dalam kerugian hidupnya kecuali mereka yang berlomba dalam kebaikan, berdakwah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran untuk kehidupan yang lebih baik diakhirat,

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,


”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” 


Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,


 ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar

 Syarh Tsalatsatul Ushul.


KENAPA KITA HARUS BERDAKWAH


Dakwah sebenarnya adalah wajib dilakukan setiap muslim sesuai kemampuan ilmunya, menasehati orang lain dengan kadar keilmuannya, karena kita tidak diperbolehkan membiarkan kemungkaran merajalela tanpa kepedulian sedikitpun meski dalam hati menolak kemungkaran itu, karena kita juga akan kena dampanya dan juga dosa dari orang lain yang bersangkutan jika kita juga ridho dengan kemaksiatan yang mereka perbuat, oleh karena pentingnya dakwah kami akan kemukakan alasan mengapa kita harus berdakwah


1 Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya



Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Qs. Yusuf: 108)


Berdasarkan ayat yang mulia ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil sebuah pelajaran yang amat berharga, yaitu: Dakwah ila Allah (mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau tuliskan di dalam Kitab Tauhid bab Ad-Du’a ila syahadati an la ilaha illallah (Ibthal At-Tandid, hal. 44).


2 Dakwah merupakan karakter orang-orang yang muflih (beruntung)


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-’Imran: 104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad, dinilai hasan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)


3 Dakwah merupakan ciri umat yang terbaik


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma’ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…” (Qs. Ali-’Imran: 110)

Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang benar, ayat ini umum mencakup segenap umat (Islam) di setiap jaman sesuai dengan kedudukan dan kondisi mereka masing-masing. Sedangkan kurun terbaik di antara mereka semua adalah masa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi yang berikutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 68)

4 Dakwah merupakan sikap hidup orang yang beriman

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,…” (Qs. At-Taubah: 71)

Inilah sikap hidup orang yang beriman, berseberangan dengan sikap hidup orang-orang munafiq yang justru memerintahkan yang mungkar dan melarang dari yang ma’ruf. Allah ta’ala menceritakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf…” (Qs. At-Taubah: 67)


5 Meninggalkan dakwah akan membawa petaka


Allah ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra’il (yang artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 78-79)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)


Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syaikh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)


6 Orang yang berdakwah adalah yang akan mendapatkan pertolongan Allah


Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan.” (Qs. Al-Hajj: 40-41)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).


7 Dakwah, bakti anak kepada sang bapak


Allah ta’ala mengisahkan nasihat indah dari seorang bapak teladan yaitu Luqman kepada anaknya. Luqman mengatakan (yang artinya), “Hai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs. Luqman: 17)

Allah juga menceritakan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya. Allah berfirman (yang artinya), “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang jujur lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya; Wahai ayahku. Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bisa mencukupi dirimu sama sekali? Wahai ayahku. Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku. Janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu selalu durhaka kepada Dzat Yang Maha Penyayang.” (Qs. Maryam: 41-44)



8 Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabbnya


Allah berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa’.” (Qs. Al-A’raaf: 164)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307)

Allah berfirman (yang artinya), “Para rasul yang kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan itu, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisaa’: 165).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “Wahai umat manusia, hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab, “Bulan yang disucikan.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, “Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”… (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina. Hadits no. 1739)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, “Sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan.” (Fath Al-Bari, jilid 3 hal. 652).


9 Dakwah tali pemersatu umat


Setelah menyebutkan kewajiban untuk berdakwah atas umat ini, Allah melarang mereka dari perpecahan, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah keterangan-keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang berhak menerima siksaan yang sangat besar.” (Qs. Ali-’Imran: 105)



Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalaulah bukan karena amar ma’ruf dan nahi mungkar niscaya umat manusia (kaum muslimin) akan berpecah belah menjadi bergolong-golongan, tercerai-berai tak karuan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki…” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 102)




10 Dakwah merupakan seruan kebenaran menuju kehidupan yang damai didunia dan akhirat 

dakwah inti utamanya adalah supaya manusia tidak lalai dengan Allah SWT, supaya tidak terlena dengan dunia yang hanya sebuah permainan belaka, supaya menyadari masih ada kehidupan yang lebih baik lagi bagi orang beriman dan lebih menyengsarakan lagi bagi orang kafir, karena manusia lahir hidup melewati masa masa kehidupan dan semua aktivitasnya kemudian mati dan tujuan akhirnya adalah ahirat, jangan sampai karena kita kehilangan impian dan harapan dengan dunia kemudian kita frustasi lalai kepada jalan kebenaran dan melampiaskannya kedalam maksiat justru itu kerugian yang sangat besar kenapa? 

Allah SWT berfirman :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka menge-tahui” 
[QS. al-'Ankabūt  64]

Allah SWT berfirman :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” 
(QS. Al An’am 32)

Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad 36)

Allah SWT berfirman : 
 
 “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” 
(Al Munafiqun ayat 9)

 

sumber:

-muslim.or.id

- mukadimah dan revisi by Ashabul-muslimin.tk







Friday, 29 July 2016

JANGAN PUTUS ASA DENGAN KESULITAN, SEMUA ADA JALANNYA !

OLEH : M. Ashabus Samaaun



MUKADIMAH AYAT

“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
( QS. Al – Insyirah : 5-6 ).

PENJELASAN 

Keyakinan akan dekatnya pertolongan Allah bukanlah suatu hal yang mudah bagi manusia untuk merarasakannya. Ketika musibah tiba seakan akan taka da harapan lagi untuk bahagia seakan akan dirinya adalah orang paling malang nasibnya didunia ini, merasa paling miskin, sendirian, selalu menderita hidupnya. padahal banyak sekali didunia ini nasibnya yang lebih buruk daripada kita, mereka yang tinggal diemperan jalan, mereka yang hidupnya gelandangan tak punya rumah dan keluarga berjuang demi sesuap nasi memunguti sampah dan mengamen dijalanan dan sebagainya.

Ketika sakit , dia merasakan seolah olah tak ada orang lain yang lebih menderita selain dirinya. Ketika usaha jatuh dan dililit hutang, ia pun mengeluh betapa pedih kehidupan ini. Ketika berurusan dengan masalah hukum, Allah didakwa telah menganiaya dirinya.  Mengapa yang lain yang melakukan hal yang sama ternyata dapat selamat dari jerat hukum, lalu berteriak “Di mana keadilan?”

Ketika sakit ketika dililit hutang ketika kebutuhan hidup menghimpit kita seakan akan kita paling pedih hidupnya membayangkan hidup kita, apalagi ketika kita melihat orang lain yang berharta kita selalu iri bahkan seenaknya kita membatin, dimana keadilan Tuhan kenapa dia hidup kaya serba ada sedangkan saya hidupnya miskin tersia-sia. Padahal persepsi kita saja yang salah yang kayapun belum tentu dia selalu bahagia, dia mikir perusahaannnya sampai stress sampai sampai kebahagiaan rumah tangganya tidak terurus kemudian bercerai berai, itulah kita melihatnya selalu dari satu sisi saja, enaknya saja. Padahal tak ada kata enak hidup didunia ini seperti kata orang dungu yang berangan-angan gila seperti ini :

Lahir kedunia

 dilingkungan serba ada

Kecil dimanja,

 remaja foya foya,

sekolah naik motor ninja

punya pacar baik cantik jujur setia

ketika dewasa kaya raya bahagia,

pergi kemana mana

naik mobil mewah

miliaran harganya

 punya istri cantik jelita

solihah dan  baik hatinya pula,

punya anak ganteng dan cantik sukses semua

matipun ia masuk surga


Kalau lah memang didunia ada yang seperti ini maka dia lebih beruntung dan lebih tinggi derajatnya daripada Rasulullah saw manusia paling mulia dan terbaik dialam semesta, kenapa begitu? Bagiamana tidak rasulullah saw saja yang dijamin pasti masuk surga hidupnya selalu penuh ujian pedih dalam setiap langkah dakwahnya dicaci maki dan dihina oleh orang kafir, dianiaya dilempari batu dan kotoran onta bahkan mendapat ancaman dibunuh oleh petinggi kafir quraish jika tidak berhenti menyebarkan agama, kembali kebahasan tadi sementara kita manusia biasa yang banyak dosanya, terkadang angkuh dan sombong tidak peduli dengan sesama manusia, menginginkan kehidupan yang sempurna bahagia didunia dan akhiratnya tak ada yang seperti itu saudara.

kalau ada pun dia berhak mendapat julukan manusia paling mulia dunia dan ahirat karena hidup serba ada sempurna bahagia, tak pernah sekalipun merasa sedih dan susah kemudian mati dalam keadaan masuk surga, luar biasa saudara, mana ada orang yang tidak mau seperti ini semua manusia pasti menginginkannya tapi kenyataan adalah terbalik, mereka yang terlalu kenyang dengan kesenangan dunia akan menjadi keras hatinya, kalau sudah keras hatinya dia gemar maksiat dan tidak segan merampas hak orang lain, bersikap sombong dan semena mena dengan yang lemah dan hidup menderita, semakin kaya kadang manusia itu semakin pelit dan seenaknya dengan mereka yang statusnya kurang mampu.

Mana mungkin orang seperti ini masuk surga sementara surga? dikhususkan bagi mereka yang sabar, bertakwa dan berahlaq mulia, kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin yang teraniaya kata rasulullah saw, karena mereka kenyang dengan penderitaan dunia sehingga hatinya menjadi lembut dan peka hatinya, karena hidupnya tidak disibukkan oleh dunia sehingga banyak waktu dia luangkan untuk mengingat Allah SWT. Sementara mereka yang berharta mereka akan sibuk dengan aktivitas duniawi yang menutupi mata hati akan datangnya kematian. Lebih buruk ketika ia dijemput malaikat maut dalam keadaan kufur lalai akan nikmat Allah SWT malah digunakan untuk hal yang maksiat dan sia-sia, Siksa kubur tentu menantinya dan nerakapun mengintainya malaikat penjaga neraka mengawasi dan mengancamnya.Naudzubillah

Apakah anda tidak melihat kejadian berita dan peristiwa sekarang ini yang mereka itu adalah artis-artis dan pejabat yang hidupnya serba ada, mereka malah gunakan untuk pesta pora maksiat hura hura mengkonsumsi sabu sabu narkoba tempat pelarian kehidupan mereka bukannya masjid tapi tempat hiburan malam semacam diskotik maupun kafe yang didalamnya terdapat minuman keras dan wanita wanita tuna susila. Kenapa mereka malah seperti itu, itu karena mereka merasa kesulitan dalam hidup dan frustasi tapi tidak mengenal Allah sehingga pelarian mereka adalah hal hal yang berbau dosa dan maksiat, akan tetapi apakah pelariannya itu mampu mgnobati hati mereka yang gersang tentu saja tidak karena hati yang gersang obatnya adalah mengingat Allah SWT atau dzikir dan mengingat hari akhir dan segala kejadiannya dialam sana kelak.

Bagi orang yang beriman tentu segala kesulitan ada hikmah dan maknanya. Sakit dapat menjadi penghapus dosa dan penambah pahala. Usaha bangkrut dapat menjadi penguat mental untuk bangkit untuk keberuntungan yang lebih besar. Begitu juga hukuman adalah pintu taubat agar kelak menjadi hamba yang lebih waspada dan banyak beramal.


SOLUSI ISLAM MENGATASI KESULITAN HIDUP
 
Pertama, Pasrahkan semua kepada Allah SWT dan berdoa kepada-Nya.
Kita ingat ucapan dan doa Nabi Ayub saat ditimpa sakit berat yang menyedihkan, harta habis dan dihinakan, ditinggal sendirian oleh teman, kerabat, serta sanak keluarga. Istrinya pun hengkang. Beliau berkata,
 Sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang” (QS AL Anbiyaa 83).

“Wa anta arhamur roohimiin” Engkau yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang !. Ini adalah kalimat yang menghidupkan cahaya lampu di kegelapan malam. Menjadi pengangkat harkat dari jurang yang dalam. Menjadi  penuntun langkah kaki yang terseok-seok dan jatuh bangun. Allah lah pemberi jalan, bukan yang lain.
 “Adakah yang lain yang mengabulkan permohonan orang yang ditimpa kesulitan ketika berdoa, meghilangkan keburukan, dan menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Adakah Tuhan selain Allah? Sedikit sekali yang ingat” (QS An Naml 62).

Kedua, Berprasangka positif tetap optimis dengan kehendakNya dan Ihtiar jangan menyerah
Sesulit apapun yang dirasakan, prasangka kepada Allah harus tetap positif, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Diawali dengan prasangka baik terhadap apa yang menimpa kita, dilanjutkan dengan kesungguhan berikhtiar di jalan-Nya, insya Allah ada jalan.

“Barangsiapa bersungguh-sungguh (berikhtiar)  dijalan Kami, maka Kami akan tunjukan jalan-jalan-Nya dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS Al Ankabuut 69).

sebuah kisah Dari Al Fudhail bin Iyadl, syaikhul Haram Al Makki,  ia berkata
ada keluarga yang terhimpit kesulitan hidup menjual alat tenun barang berharga terakhir milik mereka. Suaminya sepulang menjual barang seharga satu dirham tersebut bertemu dengan dua orang yang sedang bertengkar hebat. Ketika ia bertanya “Ada apa?” Orang menyampaikan bahwa keduanya sedang memperebutkan uang satu dirham! Maka ia berikan uang hasil penjualan alat tenunnya. Kini ia tak memiliki apa-apa lagi. Sesampai di rumah dikabarkan kepada istrinya peristiwa yang terjadi. Meski kecewa tapi istrinya memahami dan bersabar. Dikumpulkan perkakas rumah tangga sederhana yang masih tersisa, lalu dibawa suaminya untuk dijual  kembali, ternyata kemana-mana tidak laku.

Kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu berkata kepadanya, “Engkau membawa sesuatu yang tak laku demikian juga dengan aku, maukah kita bertukar barang dagangan?” Lalu iya mengiyakan.

Sesampai dirumah, diminta istrinya untuk bertawakal kepada Allah dan segera memasak. “Istriku, segera masaklah ikan busuk ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!”

Namun apa yang terjadi ketika istrinya membelah ikan tersebut, dari perutnya keluar  benda yang ternyata itu adalah mutiara. Dibawanya ke tempat kawannya seorang pedagang perhiasan, ternyata kawannya  tersebut berani membeli mutiara itu dengan harga empat puluh ribu dirham!.
 
Ketiga, Memohonlah kepada Allah dengan sungguh- sungguh di sepertiga malam terahir

 
Nabi Bersabda :
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Tirmidzi)
Siapa lagi yang dapat menolong kita ketika kita sedang mengalami kesusahan siapa lagi kalau bukan Allah SWT, orang orang yang tidak mengenal Allah SWT selalu merasa sendirian ketika kesusahan, segala bebannya seakan-akan ditanggung sendirian, ahirnya ia frustasi kalau sudah akut dia stress sampai bunuh diri hanya karena terlilit hutang misalnya. Atau diantara kita ada yang kesulitan mencari pasangan hidup, kesana kemari mencari calon pendamping idaman tidak ada yang cocok bahkan ketika kita merasa dihianati diingkari janji oleh calon semisal pembatalan akad nikah dan sebagainya, maka ia akan frustasi seumur hidup jika tidak memasrahkan semuanya kepada Allah tetaplah optimis kepada ketentuan Allah SWT jika kita tidak mendapatkan sesuatu yang baik maka yakinlah Allah SWT akan mengganti sesuatu itu yang lebih baik lagi, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, apa yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambaNya adalah sesuatu yang terbaik buat dirinya asalkan ia mau berusaha mendapatkannya dengan ihtiar, tidak putus asa dan iringi dengan doa dan sholat malam.
Allah SWT berfirman :
“Dan memohonlah pertolongan melalui kesabaran dan shalat. Sesungguhnya  hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusu'.” (QS. Al-Baqarah : 45)
memang manusia didunia ini tak ada yang jalan hidupnya selalu mulus, oleh karena itu kita diwajibkan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT saja, tak ada satu mahluk pun mampu menolong kita ketika Allah menghendaki kesulitan, dan tak ada satu mahluk pun mampu menyulitkan kita ketika Allah menghendaki kemudahan bagi kita. Tiada dan upaya melainkan dari Allah semata. Jangan menyerah dengan keadaan, memohonlah kepada Allah pada waktu sholat malam atau tahajud, karena Dia la sebaik-baik penolong.

Terakhir mungkin sebuah syair dari maher zain ini dapat menginspirasi kita
Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap Allah selalu di simu”.
“Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah ada jalan
”.  (syair lagu Maher Zain)


Wallahu ‘alam

Sumber “ dari berbagai sumber”

Thursday, 28 July 2016

DOWNLOAD EBOOK ILMIAH ISLAM MENUJU IMAN





Fakta Ilmiah dalam Al Quran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Setiap Rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia dibekali dengan keistimewaan-keistimewaan yang disebut mukjizat. Mukjizat ini bukanlah kesaktian ataupun tipu muslihat untuk memperdayai umat manusia, melainkan kelebihan yang Allah SWT berikan untuk meneguhkan kedudukan para Rasulnya dan mempertegas seruan (dakwah) mereka agar manusia beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya (ajaran tauhid).

download ebook ini



DOWNLOAD EBOOK HUKUM ISLAM TIDAK KENAL REAKTUALISASI

ada problema yang diramaikan umat islam yaitu gagasan reaktualisasi /pembaharuan ajaran agama. agama ini sejak jaman dahulu tetaplah begini tidak boleh diotak atik atau dibah karena kenyataan jaman, itulah gagasan yang selalu digemborkan antek liberal yang ingin merusak islam. agama bukan mainan anak yang seenaknya dimodifikasi, barangsiapa berani memodifikasi maka dia telah sesat,

download ebook ini