Saturday, 29 April 2017

Tanda Kiamat Besar : Munculnya Asap Misterius Dari Langit Selama 40 Hari

Tanda kiamat besar menurut sebuah hadits adalah adalah 10 sebagaimana di sebutkan nabi saw
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) pe-nenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.”

Kemudian yang akan kita bahas sekarang ini adalah salah satu tanda di antara tanda besar Hari Kiamat adalah munculnya ad-dukhan (asap). Pencantuman ad-Dukhan sebagai nama surat ke-44 dalam Alquran mengindikasikan seriusnya ancaman ini akan datang pada umat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih." (QS ad-Dukhan [44]: 10-11).

Imam Thabrani menyebutkan, peringatan Rasulullah SAW tentang ad-Dukhan tersebut bersanding dengan bahaya Dabbah (binatang melata yang keluar dari perut bumi dan memangsa manusia) dan Dajjal. Tanda-tanda ini merupakan tanda besar Hari Kiamat. Hal ini termaktub dalam sabda Beliau SAW,


 "Sungguh Rabb-Mu telah memperingatkanmu akan tiga hal, ad dukhan (asap) yang akan mengakibatkan orang Mukmin demam dan orang kafir melepuh sehingga keluar asap dari telinganya. Kedua adalah Dabbah, dan ketiga adalah Dajjal." (HR Thabrani).

Penyebutan hadis secara urut ini mengindikasikan tahapan-tahapan dari tiga tanda-tanda kiamat kubra (besar) tersebut. Diawali dengan dukhan, kemudian Dabbah, selanjutnya Dajjal.Ada beberapa penafsiran ulama tentang makna dari ad-dukhan. Ibnu Mas'ud RA menafsirkan, ad-dukhan bisa dimaknai dengan kesempitan hidup yang melanda kaum Quraisy pada zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Nabi SAW mendoakan kaum kafir Quraisy yang menolak dakwah Islam agar mendapat kesempitan hidup. Semenjak itu, sengsaralah kehidupan kaum kafir Quraisy. Banyak di antara mereka yang sampai memakan bangkai dan tulang-belulang.

Ibnu Jarir Ath-Thabari yang juga sepaham dengan pendapat Ibnu Mas'ud mengatakan, kesengsaraan yang dialami kafir Quraisy tersebut diibaratkan seperti asap yang menyelimuti bumi. Firman Allah SWT, "Tetapi, mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka, tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata." (QS Ad-Dukhan [44]: 9-10). 


Menurut Ibnu Jarir, ayat ini tertuju kepada kaum kafir Quraisy di zaman Rasulullah SAW.Pendapat lainnya mengatakan, ad-Dukhan adalah tanda besar Kiamat yang akan datang pada akhir zaman nanti. Ibnu Abbas yang meyakini pendapat ini menyebutkan, ad-dukhan berasal dari sebuah meteor dari bintang "Dzu Dzanbin" yang jatuh ke bumi. Akibat dari meteor ini menimbulkan asap yang menyebabkan demam bagi orang beriman dan melepuhkan kulit orang-orang kafir.

Melihat kepada lafaz ayat, fartaqib (maka tunggulah) menunjukkan sesuatu yang belum terjadi, tapi mengindikasikan sangat dekat kedatangannya karena ada kata perintah untuk menunggu. Pendapat ini banyak dipakai sejarawan Islam yang meneliti tanda-tanda Hari Kiamat. Ada pula yang mengaitkan ad-dukhan dengan perang nuklir yang meracuni udara dengan gas kimia berbahaya. Hal ini diprediksikan bisa terjadi dalam Perang Armagedon (perang besar di akhir zaman) dan menjadi tanda besar Hari Kiamat.Al-Qurthubi dalam tafsirnya (16/130) menggabungkan dua pendapat Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas ini. Menurut al-Qurtubi, bisa jadi asap yang dimaksudkan ada dua sesi. Sesi pertama telah turun pada zaman Nabi SAW untuk mengazab orang kafir Quraisy. Sedangkan, sesi kedua menjadi tanda besar akan datangnya Hari Kiamat, yakni hantaman meteor ke muka bumi yang menyebabkan asap. Demikian seperti dipaparkan dalam 'Asyarathus Saa'ah (10 tanda besar Hari Kiamat, hal 383-388).

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat ad-Dukhan mengutip perkataan Ibnu Abi Hatim yang ia terima dari Ali bin Abu Thalib. Menurutnya, hantaman meteor mengakibatkan kabut asap dan peningkatan suhu bumi. Orang beriman dilindungi dari mara bahaya tersebut. Kalaupun mereka terkena dampaknya, hanya berupa flu dan demam saja. Adapun dampak bagi orang kafir akan melepuhkan kulitnya sehingga dari telinganya pun mengeluarkan asap.Beberapa kalangan mendeskripsikan ad-Dukhan menyelimuti bumi selama 40 hari. Manusia yang merasakan ad-Dukhan tersebut seperti digambarkan dalam istilah nuclear winter. Makhluk hidup, tidak hanya manusia, akan merasakan kesengsaraan. Tak terkecuali orang beriman pun akan merasakan dampaknya walau hanya sebatas demam dan flu biasa.

Segala musibah yang diturunkan Allah kepada manusia ditujukan sebagai peringatan agar mereka kembali kepada Allah. Sabda Nabi SAW, "Jika timbul maksiat pada umatku maka Allah SWT akan menyebarkan azab dan siksa kepada mereka." Ummu Salamah RA (istri Rasulullah SAW) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah waktu itu tidak ada orang saleh?" Rasulullah SAW menjawab, "ada."Ummu Salamah bertanya, "Apakah yang akan Allah perbuat kepada mereka?" Rasulullah SAW bersabda, "Allah akan menimpakan kepada mereka azab sebagaimana ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat. Kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keridhaan dari Rabbnya." (HR Ahmad). 


Wallahu'alam.

Refrensi : Republika news


Wednesday, 26 April 2017

Rasulullah pun Tak mau Menshalati Muslim Yang Korupsi

Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak
Editor : M Alie Marzen


Korupsi adalah merupakan salah satu penyelewengan amanah dalam hal menjaga harta milik orang lain. Atau singkatnya menyembunyikan atau memakan harta yang bukan haknya. Dalam pertemuan kali ini kita akan membahas tentang bahaya dosa korupsi dalam kehidupan dunia dan diakhirat nanti, sebelum kita lebih lanjut saya membawakan mukadimah hadits dibawah ini

Nabi Muhammad SAW bersabda, La yaqbalu sholatan bighoiri tohurin wa la shodaqotan min ghululin, (Allah tidak menerima salat seseorang tanpa bersuci dan sedekah (harta) dari hasil korupsi). (HR Muslim).

Tidak ada kebaikan yang diterima Allah SWT yang dibangun dengan harta haram dan kezhaliman. Ibadah shalat yang dikerjakan, sedekah yang ditunaikan, haji yang dikerjakan atau kebaikan lain yang dilakukan tidak bermakna ibadah sama sekali di sisi Allah SWT, bila seorang Muslim masih Melakukan praktik korupsi dalam hidupnya, menumpuk kekayaan, dan memberikan nafkah kepada keluarganya dari hasil korupsi.Rasullulah SAW sangat membenci perilaku ghulul atau di Indonesia kita kenal sebagai korupsi atau perilaku maling yakni mengambil hak orang lain atau hak publik, atau menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk kepentingan pribadi atau kelompok, memperkaya diri dengan cara yang haram, serta abai terhadap hak-hak orang banyak.

Nabi SAW sangat membenci korupsi. Kebencian Rasulullah SAW terhadap korupsi pernah ditunjukkan ketika ada salah satu sahabat yang gugur dalam Perang Khaibar.Nabi SAW diajak untuk menshalati sahabat yang gugur tersebut. Namun Beliau dengan tegas menolak, dan mempersilahkan sahabat lain untuk menshalati sahabat yang gugur tersebut.Sahabat yang lain bertanya mengapa Rasulullah SAW menolak menshalati sahabat yang gugur tersebut. Rasul menjawab, “Sahabat kita itu telah melakukan ghulul.“Setelah dicek, ternyata sahabat yang gugur tersebut masih menyimpan manik-manik hasil rampasan perang yang belum dibagikan, yang nilainya sekitar dua dirham.Bila dikonversi dengan nilai Rupiah saat ini sekitar Rp 150 ribu. Hanya karena menggelapkan ghonimah senilai dua dirham, Nabi SAW menunjukkan ekspresi kebencian yang terang. Bagi para sahabat, hukuman yang diterapkan Rasulullah SAW tersebut sangat berat, baik secara sosial maupun secara spiritual.

Melalui peristiwa Perang Khaibar tersebut, Islam membangun konstruksi budaya antikorupsi yang sangat kuat. Betapa tindakan koruptif ditempatkan pada posisi yang bisa menggugurkan ibadah-ibadah lainnya, merobohkan susunan kebaikan yang sudah dan akan dilakukan seorang Muslim.Bahkan sebagian ulama sampai pada satu kesimpulan bahwa tindakan koruptif adalah tindakan syirik. Mereka yang melakukan korupsi dinilai telah tunduk dan menuhankan uang atau materi, dan abai akan kehadiran Allah SWT. Padahal, dosa syirik tidak diampuni oleh Allah SWT.Tindakan koruptif teramat sulit bertobatnya karena harus meminta maaf kepada seluruh rakyat yang dirugikan akibat praktik korupsi yang pernah dilakukan. Tindakan korupsi yang pernah dilakukan seseorang bisa jadi secara tidak langsung memberikan kesengsaraan bagi hidup orang banyak.Maka, ketika korupsi masih tetap ramai dilakukan oleh sebagian besar pimpinan dan rakyat suatu bangsa dan negara, sejatinya mereka meninggalkan ajaran Islam, melupakan tauhid, dan mengabaikan budaya antikorupsi yang dibangun oleh Islam melalui perintah Allah SWT dan sunah Rasullulah.Meninggalkan perilaku koruptif dan membangun budaya antokorupsi dengan menghadirkan nilai-nilai kejujuran adalah budaya sejati Islam. Islam tidak bisa tegak tanpa menghadirkan nilai-nilai akhlak yang baik. Islam adalah husn khuluq (akhlak yang baik). Akhlak yang baik itu adalah akhlak yang antikorupsi.

Karena besarnya dosa korupsi sehingga rasulullah saw pun enggan menyalati walaupun dia gugur dalam perang jihad, naudzubillah, mari kita bersihkan diri dari budaya korupsi yang menggerogoti kehidupan masyarakat dewasa ini.

sumber : republika news

Wednesday, 19 April 2017

Pentingnya Niat dalam Beramal

Oleh Prof Dr KH Nasaruddin Umar 

Dalam sebuah nasehat Nabi Muhammad Saw dalam hadis mutawatirnya selalu mengingatkan: Innamal a'mal bi al-niyat (sesungguhnya perbuatan [yang bernilai ibadah] ialah perbuatan yang disertai dengan niat [karena Allah]).
Hadis ini menunjukkan nilai ibadah setiap amal dan perbuatan tanpa niat. Sekalipun yang dilakukan adalah ibadah khusus. Sebaliknya amal perbuatan duniawi yang baik dan dilakukan dengan niat ibadah, maka  akan bernilai ibadah di mata Tuhan. Ulama fikih menganggap sia-sia amal perbuatan tanpa niat. Karena itu, imam Syafi’ pendiri mazhab Syafi’ yang banyak dianut di Asia Tenggara dan Mesir mengharuskan adanya niat bagi setiap perbuatan jika dikehendaki sebagai ibadah. Kalangan ulama Kalam (teolog) menganggap niat sebagai faktor yang membedakan antara perbuatan manusia (human creations) dan perbuatan binatang (animal creations). 
 
Senada dengan pandangan ulama tasawuf seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi di dalam Fushush al-Hikam-nya, perbuatan yang dilakukan dengan niat suci dan penuh penghayatan adalah perbuatan keilahian (al-af’al al-Haqqani/Divine Creations).Niat adalah bentuk keterlibatan Tuhan mulai dari kehendak (masyi’ah), kemampuan (istitha’ah), sampai terjadinya perbuatan (kasab). Semakin terasa keterlibatan Tuhan di dalam sebuah perbuatan maka semakin kuat niat itu. Segala perbuatan yang dilakukan dengan kekuatan niat, maka semakin berkah pula perbuatan itu. Pada hakikatnya niat adalah konsep matang dan penuh kesadaran dari dalam diri kita tentang suatu perbuatan yang kita akan lakukan. Dalam bahasa manajemen, niat dapat dihubungkan dengan programming atau perencanaan yang baik. Tanpa perencanaan sulit mengharapkan hasil yang baik.

Dalam ilmu manajemen modern, selalu dititik beratkan arti penting sebuah programming, karena sebuah pekerjaan tanpa perencanaan yang baik pasti tidak akan menjanjikan out-put dan out-come lebih baik. Niat adalah the first creation dan implementasinya adalah the second creation.Masih banyak di antara kita melakukan perbuatan baik, termasuk menjalani rutinitasnya tanpa niat. Padahal, Nabi Muhammad Saw dalam hadis mutawatirnya selalu mengingatkan: Innamal a'mal bi al-niyat (sesungguhnya perbuatan [yang bernilai ibadah] ialah perbuatan yang disertai dengan niat [karena Allah]).Hadis ini menafikkan nilai ibadah setiap amal dan perbuatan tanpa niat. Sekalipun yang dilakukan adalah ibadah khusus. Sebaliknya amal perbuatan duniawi yang baik dan dilakukan dengan niat ibadah, maka  akan bernilai ibadah di mata Tuhan.
Ulama fikih menganggap sia-sia amal perbuatan tanpa niat. Karena itu, imam Syafi’ pendiri mazhab Syafi’ yang banyak dianut di Asia Tenggara dan Mesir mengharuskan adanya niat bagi setiap perbuatan jika dikehendaki sebagai ibadah. Kalangan ulama Kalam (teolog) menganggap niat sebagai faktor yang membedakan antara perbuatan manusia (human creations) dan perbuatan binatang (animal creations). 
Senada dengan pandangan ulama tasawuf seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi di dalam Fushush al-Hikam-nya, perbuatan yang dilakukan dengan niat suci dan penuh penghayatan adalah perbuatan keilahian (al-af’al al-Haqqani/Divine Creations). 

Niat adalah bentuk keterlibatan Tuhan mulai dari kehendak (masyi’ah), kemampuan (istitha’ah), sampai terjadinya perbuatan (kasab). Semakin terasa keterlibatan Tuhan di dalam sebuah perbuatan maka semakin kuat niat itu. Segala perbuatan yang dilakukan dengan kekuatan niat, maka semakin berkah pula perbuatan itu. Pada hakikatnya niat adalah konsep matang dan penuh kesadaran dari dalam diri kita tentang suatu perbuatan yang kita akan lakukan. Dalam bahasa manajemen, niat dapat dihubungkan dengan programming atau perencanaan yang baik. Tanpa perencanaan sulit mengharapkan hasil yang baik.Dalam ilmu manajemen modern, selalu dititik beratkan arti penting sebuah programming, karena sebuah pekerjaan tanpa perencanaan yang baik pasti tidak akan menjanjikan out-put dan out-come lebih baik. Niat adalah the first creation dan implementasinya adalah the second creation. (sumber : republika news)