Tuesday, 25 July 2017

Tanda Kiamat, Ramalan Kedatangan Dajjal Sudah Dekat


 
simbol mata satu adalah dajjal
editor dan penulis : Ashabul Muslimin 
Ramalan Kedatangan Dajjal dan Yajuj Majuj

  Sekarang saatnya untuk menemukan jawaban, dan kini saatnya untuk menentukan pilihan. Jika Kalian ingin memperoleh jawaban, teruslah membaca  Jika tidak, tutuplah laman ini, kembalilah ke rutinitas semula, dan hiduplah seperti biasa seolah-olah kalian tidak pernah membacanya. Sekarang, mari kita kernbali menuju pembahasan mengenai kelompok Elit dan kelompok rahasia pemuja kegelapan itu. Apakah mungkin mereka mampu menjalankan konspirasi global ini seorang diri? Pikirkanlah, semakin banyak yang Kita ketahui mengenai konspirasi tersebut, maka semakin banyak yang kita pelajari tentang sejarah kelompok Elit.

Dan kita akan menyadari bahwa rencana mereka nyaris sempurna. Mengapa kelompok Elit dan kelompok rahasia pemuja alam gaib itu mengabdikan hidup mereka untuk rencana yang belum akan terwujud di masa mereka? Karena tujuan dari rencana ini tidak diatur oleh manusia, melainkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar. Orang-orang telah menjual jiwa mereka untuk mewujudkan rencana ini, dan sebagai imbalannya, merekaakan mendapatkan kekayaan melimpah dan kekuasaan. Lalu siapakah yang diuntungkan dengan adanya rencana ini? Tentu saja, rencana ini akan sangat menguntungkan sang arsitek Tatanan Dunia Baru dan orang-orang bodoh yang menjalankannya. Sekarang saatnya untuk menyatukan kepingan-kepingan perunjuk yang telah kita kumpulkan sejauh ini. Kita telah melihat dunia tipu muslihat di sekitar kita. Dan kita sepakat bahwa dunia itu adalah dunia kebohongan. 

Kalian tahu siapa yang dirujuk oleh para Nabi (as) sebagai pelaku tipu muslihat itu? Dialah Anti-Kristus atau Dajjal. Apakah sebutan bagi Mesiah palsu dalam Islam? Sebutannya adalah Al A'war AI Dajjal yang secara harafiah berarti Pembohong Bermata Satu. Menurut kalian apakah suatu kebeculan jika julukan tersebut diberikan kepada Mesiah palsu? Apakah hanya suatu kebetulan jika kelompok Elit memilih "mata satu" sebagai simbol mereka? Anti-Kristus Dajjal telah memimpin dunia selama bertahun-tahun. Apakah ia sesosok makhluk, ataukah sebuah pandangan hidup? Dia adalah keduanya, dan ia nyata.

 Coba perhatikan sekali lagi piramida yang terdapat dalam The Great Seal. Bagian puncak piramida tersebut terpotong dan terpisah dari bagian di bawahnya, dan di puncak pitamida yang masih mengapung tersebut terdapat all-seeing eye (mata yang melihat segalanya), yang akan terus berada di sana sampai mereka berhasii menyelesaikan proyek masonik. Di bagian bawahnya tercantum slogan yang berbunyi novus ordo seclorum dan annuit coeptis. Itu berarti Tuhan yang mereka percayai, senang dengan proyek mereka. Proyek yang membuat sesembahan mereka senang adalah adalah proyek sekulerisasi dunia, dengan tujuan menyimpangkan dunia dari keyakinan beragama. Itulah proyek mereka dan itulah alasan mengapa disebut sebagai Novus Ordo Sedorum, yang berarti tatanan sekuler yang baru atau tataran duniawi. Seorang ulama bernama Syeikh Imran Hussein yang dilahirkan di kepulauan Trinidad, berpidato, Al-Quean dan Nabi Allah, Muhammad (saw), mengarahkan perhatian kita kepada aktor lain yang sama kuatriya seperti Gog dan Magog2. Siapakah dia sebenarnya? Dia adalah Mesiah palsu, yaitu Dajjal atau Anti-Kristus. Mengapa dia dikenal sebagai Mesiah palsu? Tidak lain dikarenakan misinya adalah untuk meniru Mesiah sejati yaitu putra Maryam, Nabi Isa (as) atau yang bagi orang Kristiani dikenal dengan nama Yesus. Ketika Allah mengutus Nabi Isa (as) kepada kita, Allah mengirimnya sebagai Mesiah sejati untuk menjalankan misi memimpin dunia dari Yerusalem dari Israel suci.

Gog and Magog di dalam Islam dikenal dengan sebutan Ya'juj dan Majuj. Mereka adalah manusia yang diturunkan dari Nabi Adam dan Hawa, sama seperti kita. Menurut keterangan hadis, mereka berasal dari ras Turki-Mongolia, memiliki ukuran mata yang kecil, hidung yang hampit rata, dan wajah lebar. Wajah mereka digambarkan seperti layanya perisai besi yang digunakan di medan tempur. Gog dan Magog sering ditampilkan secara luas sebagai mahluk supranatural raksasa otau iblis dan hanya muncul dalam dongeng.

Kemunculan mereka pada Akhir Zaman adalah salah satu pertanda yang pernah disinggung Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 99-97, Hingga apabila dibukakan (tembok) Yajuj dan Majuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit),maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata): Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. 
Dalam kisah Dzulqarnain, Allah menceritakan kepada kita, 

Hingga apabila dia tetah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianiah. Dan sesungguhnya ilrnu Kami meliputi segata apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh suatu jaLan (yang lain Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.

Dzulqarnain berkata: Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan atat-atat), agar aku membuatkan dinding antara  kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuptah (api itu). Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar ku tuangkan ke atas besi panas itu. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: Ini (dinding)  adalah  rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku. Dia akan menjadikannya hancur luluh. Dan janji Rabbku itu  adalah  benar. 

Ya'juj dan Ma'juj juga disebutkan dalam hadis dan lebih dai satu buah hadis jumlahnya, seperti yang diriwayatkan dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang rnengatakan dari Zainab binti Jahisy bahwa Muharnmad Rasulullah (saw) suatu kali memasuki ruangan dengan wajah yang khawatir. Beliau (saw) pun berkata, "Tiada Tuhan kecuali Allah, "Celakalah orang Arab dari kejahatan yang telah mendekat! Hari ini sebuah lubang yang besar telah muncul dari (dinding) pemisah Ya'juj dan Ma'juj," dan beliau mernbuat lingkaran dengan mengenakan jempol dan jari telunjuknya. Zainab binti Jahisy berkata, "Duhai Nabi Allah, akankah kita menjadi hancur walaupun di tengah-tengahnya masih terdapat orang-orang yang berbuat kebaikan?" Beliau (saw) bekata, "Benar, jika kejahatan itu menyebar" (Bukhari, 6/381, Muslim, 18/2).

Pada hadis lainya yang diiwayatkan dari Al-Nawas ibn Sam'an (ra) mengatakan sebuah hadis yang panjang yang menggambarkan beberapa pertanda Akhir Zaman. Dalam hadis ini, Muhammad Rasulullah (saw) berkata, “... dan Allah akan mengirimkan Ya'juj dan Ma'juj, mereka berkeliaran dengan ganas dari setiap bebukitan. Mereka' akan melewati danau Tiberias di Palestina  dan akan meminum segala yang terdapat di dalamnya. Lalu yang terakhir dari mereka berkata, `Seharusnya masih ada air lagi di sekitar sini." Rasulullah berkata, 'Nabi Isa (as) dan pengikutnya akan dikepung sehingga kepala seekor sapi jauh lebih berharga dibanding seratus dinar yang dimiliki pada hari itu. 'Nabi Isa (as) akan memohon kepada Allah, dan Al-lah akan mengirimkan sejenis ulat pada leher mcreka (Ya'juj dan Ma'juj), dan mereka akan berjatuhan seketika. Lalu Nabi Isa (as) dan pengikutnya akan turun  dari tempat yang dikepung." (Diriwayatkan oleh Muslim, 18/68). 

Dan Dajjal semakin dekat dengan tujuan misinya. Pada masanya, pembawa pesan Allah, Nabi Muhammad (saw), telah mengatakan kepada kita tentang pelepasan Dajjal ke dunia bebas. Ketika itu, beliau (saw) mengatakan bahwa setelah Dajjal dilepaskan, maka ia akan hidup di muka bumi selama 40 hari. Satu hari sama dengan satu tahun, satu hari sama dengan satu bulan, satu hari sama seperti satu minggu. Dan sisa hidupnya sarna dengan kita (manusia). Ketika masa Dajjal dipersamakan satu hari sama dengan satu tahun, maka Inggris akan menjadi markasnya. Dan ketika masa Dajjal satu hari sama dengan satu bulan, maka Amerika Serikat yang akan jadi markasnya. Akhirnya, ketika masa Dajjal satu hari sama dengan satu minggu, ia akan pulang kembali ke tanah asalnya. Kepulangannya kembali itu akan menyampaikan Dajjal untuk menyelesaikan tugas pertamanya. Satu hari sama dengan satu tahun adalah masa ketika Inggris berkuasa di dunia, danpoundsterling menjadi mata uang internasional. 

Dan ketika Dajjal pindah ke masa satu hari sama dengan satu bulan adalah masa ketika Amerika Serikat menggantikan posisi Inggris sebagai negara adikuasa yang memimpin dunia, dan dolar Amerika menjadi mata uang internasional. Kini Amerika Serikat sudah mulai perlahan-lahan lengser dari tampuk kekuasaan dunia, dan Israel akan menggantikan tempatnya. Tetapi bagaimana dengan jenis mata uangnya? Dolar Amerika akan hancur, kehancurannya menyeret semua mata uang di dunia. Setelah masa kehancuran dolar itu, maka kita tidak akan melihat lagi jenis uang kertas. Lalu mata uang baru apa yang akan mendominasi dunia? Apakah mata uang baru yang akan digunakan lsrael untuk memperbudak umat manusia sebagaimana halnya yang telah dilakukan Amerika Serikat dengan dolarnya? Jawabannya adalah Israel akan menggunakan mata uang yang kasat mata, yang tidak bisa kita lihat. Uang yang tidak bisa diraba, sehingga kalian tidak akan dapat menyentuhnya. Uang itu adalah uang elektronik. Dan hal paling aneh dan berbahaya tentang uang elektronik adalah bahwa uang tersebut dikendalikan olch sebuah sistem perbankan yang menguasai seluruh dunia. Dan orang Yahudi-lah yang mengendalikan sistem tersebut. ltu bukanlah sekedar omong kosong. Bukan pernyataan melantur. Tapi sebuah kenyataan.


Kapankah akhir rencana Dajjal?

Sebelumnya telah disampaikan oleh Syeikh Imran Hussein bahwa semasa hidupnya, Nabi Muhammad (saw) pernah mengatakan tentang pelepasan Dajjal ke dunia. Dalam pidato itu disebutkan pula bahwa ada masa ketika Amerika Serikat mengakhiri dominasi dunia, dan dominasi itu akan beralih kepada Israel. Saat ini, tanda-tanda berakhirnya dominasi Amerika Serikat sudah semakin jelas dengan adanya gonjang¬ganjing di pasar bursa Amerika Serikat akhir tahun lalu yang diawali dengan krisis subprime mortgage, dan diikuti dengan jatuhnya nilai dolar serta menjadi awal terjadinya krisis finansial global. Apakah dengan demikian dominasi Israel atas dunia sudah dimulai? Marilah kita melakukan penghitungan hasil Dajjal berdasarkan pidato yang disampaikan oleh Syeikh Imran Hussein di atas.

1000 + 900 = 1900 tahun Inggris memimpin dunia

Menurut Islam, saw tahun di surga sama dengan 1000 tahun di dunia manusia atau waktu yang berjalan di muka bumi. Dan dengan demikian kita bisa memperkirakan bahwa Dajjal telah menguasai dari Inggris selama 1000 tahun, melalui kerajaan Inggris yang merupakan kekuatan dunia saat iw. Bukan suatu kebetulan jika monarki Inggris sudah berkuasa sejak tahun 900 dan menjadi kekuatan yang mendominasi dunia. Kesimpulannya, tahun sama dengan 1000 tahun, maka saw bulan berarti 1000:12, yang berarti 83 tahun. Tahun 1917 ditambahkan dengan 83 tahun, maka akan sampai pada tahun 2000. Kemudian, mulai tahun 2000, Dajjal akan memimpin dari Israel dengan jangka waktu kekuasaan "satu hari sama dengan seminggu". Perhatikan baik-baik fakta berikutnya. Pada tahun 2000, George Walker Bush terpilih sebagai presiden Amerika Serikat ke-43,

Saya, George Walker Bush, berjanji dengan sepenuh hati untuk memimpin kantor kepresidenan Amerika Serikat dengan sungguh-sungguh.Dengan formula yang sama, kita harus membagi lagi angka 83 dengan angka 4, maka hasilnya kurang lebih 21 tahun. Tambahkan tahun 2000 dengan 21 tahun, maka itu berarti tahun 2020-2023 tergantung kita merujuk kepada perhitungan bulan atau matahari. Apa yang terjadi pada tahun 2020-2023 itu ?

Tibalah kita ke akhir rencana Dajjal. Pada saat itu, Illuminati diharapkan akan memindahkan dan mengamankan pemerintahan dunia ke Israel, di mana yang dipertaruhkan lebih dari sekedar negara kecil, melainkan sebuah ide besar, yaitu Tatanan Dunia Baru, sebagaimana diakui oleh George Bush.
Tengoklah kembali peristiwa 11 September 2001. Semua penelitian independen membuktikan bahwa tragedi 9/11 adalah pekerjaan yang dilakukan orang dalam (insider). Pada tahun 2002, Afganistan diinvasi, lalu tahun 2003 giliran Irak yang diinvasi. 

Lebanon mendapat giliran pada tahun 2006. Pada bulan September tahun berikutnya, Amerika Serikat tahun sama dengan 1000 tahun, maka saw bulan berarti 1000:12, yang berarti 83 tahun. Tahun 1917 ditambahkan dengan 83 tahun, maka akan sampai pada tahun 2000. Kemudian, mulai tahun 2000, Dajjal akan memimpin dad Israel dengan jangka waktu kekuasaan "satu hari sama dengan seminggu". Perhatikan baik-baik fakta berikutnya. Pada tahun 2000, George Walker Bush terpilih sebagai presiden Amerika mendirikan basis pertahanan di 10 negara sepanjang wilayah Timur Tengah. Semua itu dilakukan untuk mengamankan pemerintahan dan melindungi Israel sebagai ibukota terakhir tatanan dunia baru. ltu sama halnya dengan apa yang pernah diramalkan oleh Nabi Muhammad 1400 tahun lalu.

Sadarkah kita, apa yang sebenarnya menjadi pemicu masalah di Timur Tengah dan dunia? Saya yakin sekali bahwa setiap masalah yang timbul dan perang yang terjadi di muka bumi, sengaja dilakukan untuk melindungi pembentukan dan keamanan Negara Israel. Semua pihak yang menentang akan diperangi. Kemudian, pada saatnya Dajjal akan menampakan wujudnya dan menempati tahtanya di Israel, maka sejak saat itu ke depannya, perhitungan hari Dajjal akan sama seperti perhitungan hari di muka bumi. Apa yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad (saw), berbunyi sebagai berikut,Kemenangan akan menjadi milli( mereka yang mengikuti Imam al-Mandi dan bergahung dengan Mesiah sejati yaitu Nabi Isa (as).

Namun sayangnya, mayoritas penduduk di dunia justru mengikuti Mesiah palsu, dan mempercayainya sebagai satu  satunya orang yang terpilih. Semua itu terjadi karena mereka bukanlah pengikut yang sejati, dan tidak mengerti tanda tandanya. John F. Kennedy pernah menyampaikan pidato mengenai sebuah kelompok rahasia yang menjadi penguasa dunia,Di seluruh dunia, kita berhadapan dengan sebuah kekuatan monolitis kejam yang bersandar terutama kepada kedengkian dalam upaya perluasan cakupan pengaruh. Kita terkungkung di dalam sebuah dunia yang penuh dengan monolitis dan konspirasi kejam yang tujuannya adalah untuk menyebarkan pengaruhnya secara luas. Sebuah sistem yang mengerahkan manusia dan sumber daya material ke dalam sebuah bangunan mesin yang sangat efisien, yang mengkombinasikan milker, diplomatik, kecerdasan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan operasi politik. Semua persiapan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan tidak dipublikasikan. Ini adalah sebuah kesalahan yang dikubur dalam-dalam dan tidak pernah diungkapkan. Para pembelotnya akan dibungkam, tidak dihargai. Pidato inilah yang akhirnya menghabisi nyawanya.

Sumber : buku diary of dajjal


Friday, 21 July 2017

Mengenal Pokok Akidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah


Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Humaidy menceritakan kepada kami, beliau berkata:As-Sunnah menurut kami adalah:

Seseorang beriman kepada al-qadr ‘takdir’ yang baik atau yang buruk, yang manis atau yang pahit. Sepatutnya ia mengetahui bahwa musibah yang menimpa dirinya tidak akan meleset darinya, dan segala yang meleset darinya tidak akan menimpanya. Semua hal itu adalah al-qadhâ` ‘ketentuan’ dari Allah .

Bahwa, sesungguhnya iman mencakup ucapan dan perbuatan, (yang bisa) bertambah dan berkurang; suatu ucapan tidak akan bermanfaat, kecuali dengan amal, tidak pula amal dan ucapan (bermanfaat), kecuali dengan niat, juga tidak pula amal, ucapan, dan niat (bermanfaat), kecuali dengan sunnah.

 At-tarahhum ‘mengucapkan dan mendoakan rahmat’ bagi segenap para sahabat Rasulullah SAW   karena Allah   berfirman,

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

Tidaklah kami diperintah, kecuali untuk memintakan istighfar bagi mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela mereka, atau membenci mereka atau salah seorang di antara mereka, tidaklah ia berada di atas Sunnah dan tidak ada hak baginya berupa fai`.

Lebih dari seorang mengabarkan kepada kami dari Malik bin Anas bahwa beliau berkata,

“Allah SWT telah memberi bagian rampasan perang. Allah Ta’âlâ berfirman,

 Dan orang-orang faqir dari kaum Muhajirin yang telah dikeluarkan dari kampung-kampung mereka.” [Al-Hasyr: 8]

 Allah Ta’âlâ berfirman,

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.’.” [Al-Hasyr: 10]

 Barangsiapa yang tidak mengucapkan hal ini, ia bukanlah orang yang berhak diberi bagian berupa fai`.”

 Al-Qur`an adalah Kalamullah. Saya telah mendengar Sufyân berkata, “Dan Al-Qur`an adalah Kalamullah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk, ia merupakan seorang mubtadi’ ‘ahli bid’ah’. Tidak pernah kami mendengar seorang pun mengatakan hal ini.”

 Saya mendengar Sufyân berkata, “Dan iman adalah ucapan dan amal, (bisa) bertambah dan berkurang,” maka saudara beliau, Ibrahim bin ‘Uyainah, berkata, “Wahai Abu Muhammad, janganlah engkau mengatakan, ‘iman itu berkurang’.” Sufyân pun marah kemudian berkata, “Diamlah engkau, wahai anak kecil! Demikianlah bahwa iman itu berkurang hingga tidak bersisa sedikitpun.”

Pembenaran adanya ar-ru’yah, yakni melihat wajah Allah setelah meninggal.

Segala yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits semisal firman Allah Ta’âlâ,

 “Dan kaum Yahudi berkata bahwa tangan Allah terbelenggu, padahal sesungguhnya tangan merekalah yang terbelenggu ….”
[Al-Mâ`idah:

Sebagaimana di dalam firman Allah,

“Dan tujuh langit digenggam dalam tangan kanan-Nya ….” [Az-Zumar: 67]


Ayat-ayat semisal ini, yang banyak terdapat di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, tidaklah kita tambah, tidak (pula) kita tafsirkan. Kita berhenti pada apa-apa yang Al-Qur`an dan Sunnah berhenti di atasnya.

 Kita menegaskan (firman Allah Ta’âlâ),

“Ar- Rahmân (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.” [Thâhâ: 5]

Barangsiapa yang menyangka selain ini, ia adalah seorang ahlut ta’thîl lagi pengikut sekte Jahmiyah.
Kami tidak berpendapat sebagaimana pendapat kalangan sekte Khawârij bahwa barangsiapa yang tergelincir ke dalam dosa besar, ia telah kafir.

Tidaklah kita mengafirkan seseorang karena salah satu di antara perbuatan dosa.
Namun, kekafiran hanyalah bagi seseorang yang meninggalkan lima sendi utama, yang Rasulullah  SAW bersabda,

“Islam didirikan diatas lima sendi: syahadat (persaksian) bahwa Tiada Ilah (sembahan yang benar) selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji.”

 Adapun tiga sendi pertama, orang yang meninggalkannya tidaklah diajak berdebat, yaitu yang tidak mengucapkan syahadat, tidak mendirikan shalat, dan tidak berpuasa, karena hal ini tidaklah dapat diakhirkan dari waktunya. Ia tidak dibenarkan mengqadha hal tersebut setelah meninggalkan hal itu dengan sengaja karena sikap ia yang melampaui batas terhadap amalan ini dari waktunya yang telah ditentukan.

Adapun mengeluarkan zakat, tatkala telah mengeluarkan (zakat), hal itu telah cukup baginya, tetapi ia akan berdosa jika menolak mengeluarkan zakat.

Adapun haji, barangsiapa yang telah wajib (menunaikan haji) dan mendapat kemudahan untuk melaksanakan (ibadah) itu, dia wajib menunaikan (ibadah) tersebut. Tidaklah haji ini diwajibkan secara keseluruhan, kecuali setelah menjadi wajib untuknya. Apabila telah menunaikan (ibadah haji), ia telah melakukan kewajiban itu. Tidaklah ia berdosa karena mengakhirkan (pelaksanaan haji) itu jika telah ia tunaikan sebagaimana ia akan berdosa jika melakukan hal tersebut pada zakat karena zakat adalah kewajiban yang (hasilnya) diperuntukkan kepada kaum muslimin yang miskin yang ia tahan untuk mereka maka ia berdosa hingga kewajiban itu telah sampai kepada mereka.

Adapun haji, (ibadah) itu adalah kewajiban antara ia dan Rabb-nya. Jika telah menunaikan (ibadah haji), berarti ia telah melaksanakan kewajibannya.

Sekiranya ia meninggal dalam keadaan mendapatkan kemudahan dan sanggup, tetapi ia tidak melaksanakan ibadah haji itu, ia akan memohon agar dikembalikan ke dunia guna menunaikan ibadah haji yang telah ia lalaikan. Keluarganya wajib menghajikannya, yang semoga hal itu dapat menutupi ibadah haji yang seharusnya ia tunaikan sebagaimana halnya jika ia berutang lalu (utang tersebut) dibayarkan oleh keluarganya setelah ia meninggal.

sumber zdulqarnain.net

Tafsir Surat Al-Kautsar 1 -3, Penjelasan Sungai di Surga





AL-KAUTSAR, SUNGAI DI DALAM SURGA

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
 
Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat
الْكَوْثَرَ
“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.
Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. 

Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu. Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata al-Kautsar, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.
أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,
ڍ
عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)
Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”
Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syanaan artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)
Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.