Tuesday, 13 February 2018

Motivasi Islam Tentang Kesuksesan dan Kegagalan Mimpi

"Gagal adalah banyak mimpi sedikit usaha.. Sukses adalah banyak usaha sedikit bermimpi"

saya mau tanya Mimpimu apa? Apakah jadi Astronot.. haha jangan terlalu tinggi nanti jadi mahluk luar angkasa..maksutnya mimpi itu hanya akan jadi hayalan saja takkan terwujud. Sewajarnya Mimpi itu seharusnya sejajar dengan kemampuan mu.. Misal mimpi jadi guru.. Mimpi jadi insinyur.. Mimpi jadi wiraswasta.. Mimpi jadi sudagar dll..semakin tinggi mimpimu semakin besarlah yang harus kamu korbankan.. 😇.. Jangan takut berkorban jika punya mimpi.. Jangan bermimpi jika takut berkorban.. Waktu.. Harta.. Fisik .. Perasaa .. Pikiran.. Kebebasan.. Kadang harus kamu berikan kepada mimpimu agar terwujud..

# ashabul muslimin

Monday, 5 February 2018

Berapakah Jumlah Gambar Yang Ada Di Instagram 2018 saat ini

Sekedar informasi instagram diluncurkan sejak oktober 2010 hingga kini sudah 7 tahun (2018) mempunyai 800 juta user jika setiap user kita hitung rata rata upload 1 foto perhari maka 800 jutax365 harix7tahun adalah sekitar 2 triliun foto.. jika per foto memakan ruang 500 kb maka hardisk yang harus disiapkan instagram hari ini minimal 1 triliun MB atau  1 Miliar Gigabyte atau 1 juta Terra byte... tak bisa dibayangkan bila semua foto itu dicetak akan menjadi sampah foto yang luar biasa banyaknya.. seluruh dunia penuh dengan sampah gambar.. jaman digital ini memang begitu mudah nya kita share foto dan jepret foto.. sangat berbeda dengan jaman dulu jaman kamera kodak.. kadang juga kita menemukan foto terbakar atau rusak karena pencahayaan yang kurang tepat..masa kecil kita dulu kalau difoto sangat senang sekali dan salah tingkah berbeda dengan jaman sekarang biasa saja dah umum.. balita pun sudah mampu selfi ria .. yang jadul itu sederhana tapi indah.. yang modern itu mudah tapi cepat membosankan

Sunday, 4 February 2018

Mutiara Nasehat "Jika jalan raya saja ada yang mengatur, lalu bagaimana dengan alam semesta?"

"Lalu Lintas Saja Akan macet total dan kacau jika tidak ada yang mengatur (polisi dan trafik light), Apalagi Alam semesta ini tentu ada yang mengatur (Allah SWT) bagaimana mungkin orang atheis menganggap alam ini bergerak dengan sendiri tanpa ada yang mengatur, Kebodohan dan keangkuhan mereka telah menghalangi dari hidayah" 

(Ashabul Muslimin)

Dzikir Obat Galau, Penerang Kegelapan Hati Dan Penolong dikala Susah

Mukadimah Ayat 

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut tiama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian dan malaikat-Nya (memohon ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan, adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (Al-Ahzab: 41-43).

Penjelasan Singkat

Dzikir (mengingat Allah dengan hati dan menyebut-Nya dengan lisan) merupakan tempat persinggahan orang-orang yang agung, yang di sanalah mereka membekali diri, berniaga dan ke sanalah mereka pulang kembali.Dzikir merupakan santapan hati, yang jika tidak mendapatkannya, maka badan menjadi seperti kuburan dan mati. Dzikir merupakan senjata yang digunakan untuk menghadapi para perampok jalanan, merupakan air yang bisa menghilangkan rasa dahaga di tengah perjalanan, merupakan obat yang menyembuhkan penyakit. Jika mereka tidak mendapatkannya, maka hati mereka akan mengkerut, karena dzikir merupakan perantara dan penghubung antara diri mereka dengan alam gaib. Dengan dzikir mereka menolak bencana dan menyingkirkan kesusahan, se-hingga musibah yang menimpa mereka terasa remeh. Jika ada bencana yang datang, maka mereka berlindung kepada dzikir. Yang pasti dzikir merupakan taman surga yang mereka diami dan modal kebahagiaan yang mereka pergunakan untuk berniaga. Dzikir mengajak hati yang dirun-dung kepiluan untuk tersenyum gembira dan menghantarkan pelaku-nya kepada Dzat yang didzikiri, dan bahkan membuat pelakunya menja-di orang yang seakan tidak layak untuk diingaDalam setiap anggota tubuh ada ubudiyah yang dilakukan secara temporal. Sedangkan dzikir merupakan ubudiyah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan waktu. Mereka diperintahkan untuk mengingat sesem-bahan dan kekasihnya dalam keadaan seperti apa pun, saat berdiri, duduk, telentang. Seakan-akan surga itu merupakan kebun dan dzikir adalah tanamannya. Begitu pula hati yang bisa diibaratkan bangunan yang ko-song, maka dzikirlah yang membuat bangunan itu semarak.

Dzikir adalah pembersih dan pengasah hati serta obatnya jika hati itu sakit. Selagi orang yang berdzikir semakin tenggelam dalam dzikir-nya, maka cinta dan kerinduannya semakin terpupuk terhadap Dzat yang diingat. Jika ada keselarasan antara hati dan lisan, maka pelakunya akan lalai terhadap segala sesuatu. Sebagai gantinya, Allah akan menjaganya dari segala sesuatu. Dengan dzikir, pendengaran menjadi terbuka, lisan tidak kelu dan kegelapan menyingkir dari pandangan. Dengan dzikir ini Allah menghiasi lisan orang-orang yang berdzikir, sebagaimana Dia meng-hiasi pandangan orang-orang yang bisa memandang dengan cahaya. Lisan yang lalai seperti mata yang buta, telinga yang tuli dan tangan yang bun-tung. Dzikir merupakan pintu Allah yang paling lebar dan besar, terbuka di antara Allah dan hamba-Nya, selagi pintu itu tidak ditutup sendiri oleh hamba dengan kelalaiannya.

Al-Hasan Al-Bashry berkata, "Carilah kemanisan dalam tiga perka-ra: Dalam shalat, dalam dzikir dan membaca Al-Qur'an. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah bahwa pintunya dalam keadaan ter-tutup."

Dengan dzikir, hamba bisa mengalahkan syetan, sebagaimana sye-tan yang dapat mengalahkan orang-orang yang lalai dan lupa diri. Di antara orang salaf ada yang berkata, "Jika dzikir ada di dalam hati, lalu syetan mendekatinya, maka dia langsung kalah, sebagaimana manusia yang dikalahkan syetan jika syetan mendekatinya. Dalam keadaan kalah ini syetan-syetan berkerumun di sekelilingnya. Di antara mereka berta-nya, 'Ada apa dengan orang ini?' Yang lain menjawab, 'Dia sedang gila'."

Dzikir merupakan ruh amal-amal yang shalih. Jika amal terlepas dari dzikir, maka amal itu seperti badan yang tidak memiliki ruh.

Di dalam Al-Qur'an disebutkan sepuluh versi dalam hubungannya dengan dzikir, yaitu:

Perintah dzikir secara terbatas dan tidak terbatas.Larangan kebalikannya, yaitu lupa dan lalai.Keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kon-tinyuitasnya.Pujian terhadap para pelakunya dan pengabaran tentang surga dan ampunan yang dijanjikan Allah bagi mereka.

Pengabaran tentang kerugian yang mengabaikan dzikir dan sibuk de-ngan selainnya. Allah mengingat orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balasan bagi mereka.Pengabaran bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu.

Allah menjadikan dzikir sebagai penutup amal-amal yang shalih dan sekaligus sebagai kuncinya.Pengabaran tentang para pelakunya, bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah dan merekalah orang-orang yang berakal.

Allah menjadikan dzikir sebagai pendamping segala amal yang shalih dan ruhnya. Jika amal tidak disertai dzikir, maka ia seperti jasad tanpa ruh. perintah dzikir seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut tiama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan, bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian dan malaikat-Nya (memohon ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan, adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (Al-Ahzab: 41-43).
"Dan, sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut" (Al-A'raf: 205).

Di sini ada dua pendapat: Pertama, berdzikir di dalam hatimu dan sembunyi-sembunyi. Kedua, dengan lisan, sehingga engkau pun bisa mendengarnya.

Larangan kebalikan dzikir, yaitu lalai, seperti firman Allah,

"Dan, janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Al-A'raf:205).

"Dan, janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (Al-Hasyr: 19).

Tentang keberuntungan yang bergantung kepada banyaknya dzikir dan kontinyuitasnya, seperti firman Allah,
"Dan, sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung (Al-Anfal:45)

Pujian terhadap para pelakunya dan kebaikan pahala mereka, seperti firman Allah,
"... dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. "(Al-Ahzab: 35).

Kerugian orang yang mengabaikan dan melalaikan dzikir, seperti firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al-Munafiqun: 9).

Allah mengingat orang-orang yang mengingat-Nya sebagai balas-an bagi mereka, seperti firman-Nya,

"Karena itu ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian meng-ingkari (nikmat)-Ku." (Al-Baqarah: 152).

Pengabaran bahwa dzikir lebih besar dari segala sesuatu, seperti firman-Nya

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya meng-ingat Allah itu adalah lebih besar." (Al-Ankabut: 45).

Ada tiga pendapat tentang makna lebih besar di sini, yaitu:

- Mengingat Allah lebih besar dari segala sesuatu dan merupakan ke-taatan yang paling utama. Sebab maksud dari seluruh ketaatan adalah menegakkan dzikir kepada Allah, sehingga dzikir ini merupakan raha-sia dan ruh ketaatan.

Maknanya, jika kalian mengingat Allah, maka Dia mengingat kalian. Sementara pengingatan Allah terhadap kalian lebih besar daripada pengingatan kalian kepada-Nya. Mengingat Allah itu lebih besar daripada membiarkan kekejian dan kemungkaran. Bahkan jika dzikir ini lebih sempurna, maka dzikir itu bisa menghapus segala kesalahan dan kedurhakaan. Begitulah yang disebutkan para mufasir.

Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Makna ayat ini, bahwa di dalam shalat terkandung dua faidah yang amat besar, yaitu: Fungsi shalat itu yang bisa mencegah kekejian dan kemung-karan, kandungan shalat itu terhadap dzikir kepada Allah. Kandungan dzikir ini lebih besar daripada fungsi pencegahannya terhadap kekejian dan kemungkaran."

Penutup amal-amal yang shalih ialah dengan dzikir, seperti dzikir sebagai penutup puasa. Firman-Nya,

"Dan, hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hcndaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur." (Al-Baqarah: 185).Dzikir sebagai penutup haji, seperti firman-Nya,

"Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kalian menyebut-nye-but nenek moyang kalian atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu." (Al-Baqarah: 200).

Dzikir sebagai penutup shalat, seperti firman-Nya,

"Maka apabila kalian telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring." (An-Nisa': 103).

Dzikir sebagai penutup shalat Jum'at, seperti firman-Nya,
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak-nya supaya kalian beruntung." (Al-Jumu'ah: 10).

Tentang pengkhususan orang-orang yang berdzikir, yang bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari ayat-ayat Allah, sehingga mereka disebut pula orang-orang yang berakal, seperti firman-Nya,

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih berganti-nya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring." (Ali Imran: 190-191).

Tentang dzikir yang berfungsi sebagai pendamping segala amal dan sekaligus merupakan ruhnya, seperti firman Allah yang menyertakan dzikir dengan shalat,

"Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaha: 14).

Allah menyertakan dzikir dengan puasa, haji dan amal-amal lain-nya, dan bahkan menjadikan dzikir ini sebagai ruh haji dan intinya, se-bagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Sesungguhnya thawaf di sekeliling Ka'bah, sa'i antara Shafa dan Marwah. dan melempar jumrah itu dijadikan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah."

Allah juga menyertakannya dengan jihad, memerintahkan dzikir saat berhadapan dengan pasukan musuh, seperti firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kalian dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung." (Al-Anfal: 45).

Orang-orang yang berdzikir adalah orang-orang yang lebih dahulu berjalan, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim di dalam Shahih-nya, dari hadits Al-Ala', dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati suatu jalan di Makkah, lalu beliau melewati sebuah bukit yang disebut Jumdan. Beliau bersabda, "Teruskanlah perjalanan kalian. Ini adalah Jum-dan, dan para mufarridun telah dahulu berjalan."

Para shahabat bertanya, "Siapakah para mufarridun itu wahai Ra-sulullah?"

Beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berdzikir ke-pada Allah sebanyak-banyaknya, laki-laki dan wanita."Di dalam Al-Musnad disebutkan secara marfu', dari hadits Abud-Darda' Radhiyallahu Anhu,

"Ketahuilah, akan kuberitahukan kepada kalian tentang amal-amal kalian yang paling baik, paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada penganugerahan emas dan perak, lebih baik jika kalian berhadapan dengan musuh, lalu kalian memenggal leher mereka atau mereka yang memenggal leher kalian". Mereka bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Beliau menja-wab, "Dzikir kepada Allah Azza wa jalla."

Beliau juga bersabda, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu Anhuma,

"Tidaklah segolongan orang berdzikir kepada Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, menyelubungi mereka dengan rahmat, menurunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya."

Bukti kemuliaan dzikir ini, Allah membangga-banggakan para pela-kunya di hadapan para malaikat, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Mu'awiyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui sekerumunan para shahabat, sera-ya bertanya, "Apa yang membuat kalian berkumpul?"

Mereka menjawab, "Kami berkumpul untuk menyebut nama Allah, memuji-Nya karena telah menunjuki kami kepada Islam dan menganugerahkan Islam itu kepada kami."

Beliau bersabda, "Demi Allah, apakah hanya karena itu yang men-dorong kalian untuk berkumpul?"

Mereka menjawab, "Demi Allah, hanya inilah yang mendorong kami untuk berkumpul."Beliau bersabda, "Sebenarnya aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena curiga terhadap kalian. Hanya saja Jibril telah menda-tangiku dan mengabarkan kepadaku, bahwa Allah membangga-bangga-kan kalian kepada para malaikat."

Seorang Arab dusun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Apakah amal yang paling utama?"

Maka beliau menjawab,

"Engkau meninggalkan dunia, sedang lisanmu daiam keadaan basah karena sering menyebut nama Allah."

Ada pula seseorang yang pernah berkata kepada beliau, "Se-sungguhnya syariat-syariat Islam terlalu banyak bagiku. Maka perintah-kanlah kepadaku suatu perkara yang dapat kujadikan gantungan." Maka beliau bersabda, "Buatlah lisanmu senantiasa basah karena menyebut nama Allah."

Di dalam Al-Musnad disebutkan dari hadits Jabir, dia berkata, "Ra-sulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui kami seraya bersabda, "Wahai manusia, merumputlah kalian di kebun-kebun surga."

Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kebun-kebun surga itu?"

Beliau menjawab, "Majlis-majlis dzikir."

Beliau juga pernah bersabda,

"Pergilah kalian pada waktu pagi dan petang hari serta berdzikirlah. Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah dia melihat bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Karena Allah menempatkan hamba di sisi-Nya sebagaimana dia menempatkan-Nya di sisinya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meriwayatkan dari Ibrahim Alaihis-Salam pada malam Isra', bahwa Ibrahim Alaihis-Salam berkata kepada Rasulullah,"Sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarkanlah kepada mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segarairnya, bahwa surga itu merupakan kebun-kebun dan adapun tanamannya adalah kalimat Subhanallah walhamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar." (Diriwayatkan At-Tirmidzy, Ahmad dan lain-lainya).

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Musa Radhi-yallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

"Perumpamaan orang yang menyebut nama Rabbnya dan orang yang tidak menyebut nama-Nya seperti orang hidup dan orang mati."

Lafazh Muslim disebutkan,

"Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebutkan nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah seperti orang hidup dan orang mati."

Beliau menganggap rumah orang yang berdzikir seperti rumah yang hidup dan semarak, sedangkan rumah orang yang lalai dan tidak berdzikir sama dengan rumah orang mati atau kuburan. Dalam lafazh pertama, orang yang berdzikir disamakan dengan orang yang hidup, dan orang yang lalai tidak mau berdzikir disamakan dengan orang yang mati. Dua lafazh ini mencakup pengertian bahwa hati yang berdzikir seperti orang hidup yang berada di rumah orang-orang yang juga hidup, sedangkan orang yang lalai tidak mau berdzikir seperti orang mati yang berada di dalam kuburan. Tidak dapat diragukan bahwa tubuh orang-orang yang lalai merupakan kuburan bagi hati mereka, dan hati mereka yang ada di dalam badannya seperti orang mati di dalam kuburan, sebagaimana yang dikatakan dalam syair,"Lalai menyebut nama Allah merupakan kematian hati jasad mereka adalah kuburan sebelum masuk ke liang kubur ruh berada di dalam tubuh mereka dalam keadaan liar saat kembali pun mereka tidak mempunyai tempat kembali."

Dalam atsar Ilahy disebutkan,

:

"Allah befirman, 'Jika yang menang atas hamba-Ku adalah menyebut nama-Ku, tentu dia mencintai-Ku dan Aku pun mencintainya."

Dalam atsar Ilahy yang lain disebutkan,
"Wahai anak Adam, kamu tidak adil kepada-Ku. Aku mengingatmu namun kamu melupakan Aku, Aku menyerumu namun kamu lari kepada selainAku, Aku menyingkirkan bencana darimu, namun kamu senantiasa berada pada kesalahan-kesalahan. Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan besok jika kamu datang kepada-Ku?"

Dalam atsar Ilahy yang lain disebutkan,
:
"Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, niscaya Aku mengingatmu ketika Aku murka. Ridhalah terhadap pertolongan-Ku kepadamu, karena pertolongan-Ku kepadamu lebih baik daripada per-tolonganmu untuk dirimu sendiri."

Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan atsar Ilahy yang diriwayatkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Rabb,
"Siapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku, dan siapa yang mengingat-Ku di keramaian orang, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik daripada mere-ka."

Saya telah menyebutkan sekitar seratus faidah dzikir dalam kitab Al-Wabilush-Shayyib,10 beserta rahasia-rahasia, keagungan manfaat dan buahnya yang bagus. Di sana juga saya sebutkan tiga macam dzikir, yaitu:

Dzikir asma, sifat dan makna-maknanya, pujian terhadap Allah dengan asma dan sifat-sifat itu serta pengesaan Allah.

Dzikir perintah dan larangan, halal dan haram.

Dzikir karunia, nikmat, kemurahan dan kebaikan.

Ada tiga macam dzikir lainnya yang berkaitan dengan cara pelak-sanaannya, yaitu:

Dzikir dengan menyelaraskan antara lisan dan hati. Ini merupakan tingkatan dzikir yang paling tinggi.

Dzikir dengan hati semata.

Dzikir dengan lisan semata.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Dzikir artinya membebaskan , diri dari lalai dan Iupa."

Perbedaan antara lalai dan Iupa, bahwa lalai merupakan pilihan pelakunya. Sedangkan Iupa bukan karena pilihannya. Karena itu Allah befirman, "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai". Tidak dikatakan, "Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lupa", karena lalai tidak termasuk dalam pembebanan kewajiban, sehingga tidak dilarang.

Menurut Syaikh, ada tiga derajat dzikir, yaitu:

Dzikir secara zhahir, berupa pujian, doa atau pengawasan.

Yang dimaksudkan zhahir adalah apa yang disampaikan lisan dan se-suai dengan suara hati. Jadi tidak sekedar dzikir sebatas lisan semata, karena banyak orang yang tidak beranggapan seperti ini. Sedangkan pujian seperti ucapan Subhanallah wal-hamdu lillah, la ilaha illallah wallahu akbar. Sedangkan doa seperti yang banyak disebutkan dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, dan hal ini sangat banyak jenisnya. Sedangkan pengawasan, seperti ucapan, "Allah besertaku. Allah meli-hatku. Allah menyaksikan aku", dan lain sebagainya yang dapat me-nguatkan kebersamaannya dengan Allah, yang intinya mengandung pengawasan terhadap kemaslahatan hati, menjaga adab bersama Allah, mewaspadai kelalaian dan berlindung dari syetan serta hawa nafsu. Dzikir-dzikir Nabawy menghimpun tiga perkara, yaitu: Pujian terhadapAllah, penyampaian doa dan permohonan, pengakuan terhadap Allah. Maka disebutkan di dalam hadits, "Doa yang paling baik adalah ucapan alhamdulillah."

Ada seseorang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah, "Apa pasalnya alhamdulillah dijadikan doa?" Maka dia menjawab, "Apakah engkau tidak mendengar perkataan Umayyah bin Ash-Shallat kepada Abdullah bin Jud'an yang mengharapkan pemberiannya, "Layakkah aku menyebutkan kebutuhanku, padahal orang yang memberiku telah mencukupi aku? Perilakumu itu pun sudah disebut pemberian." Dzikir-dzikir Nabawy juga mencakup kesempurnaan pengawasan, ke-maslahatan hati, kewaspadaan dari kelalaian dan berlindung dari sye-tan.

Dzikir tersembunyi, yaitu membebaskan diri dari segala belenggu, berada bersama Allah dan hati yang senantiasa bermunajat kepada Rabb-nya.

Yang dimaksudkan tersembunyi di sini ialah dzikir hanya dengan hati. Ini merupakan buah dari dzikir yang pertama. Sedangkan maksud membebaskan diri dari segala belenggu artinya membebaskan diri dari lalai dan Iupa, membebaskan diri dari tabir penghalang antara hati dan Allah. Berada bersama Allah artinya seakan-akan dapat melihat Allah. Senantiasa bermunajat artinya menjadikan hati bermunajat, terkadang dengan cara merendahkan diri, terkadang dengan cara memuji, mengagungkan dan lain sebagainya dari macam-macam munajat yangdilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau dengan hati. Ini merupakan keadaan setiap orang yang jatuh cinta dan yang dicintai.

Dzikir yang hakiki, yaitu pengingatan Allah terhadap dirimu, membe-baskan diri dari kesaksian dzikirmu dan mengetahui bualan orang yang berdzikir bahwa ia berada dalam dzikir.

Dzikir dalam derajat ini disebut yang hakiki, karena dzikir itu dinis-batkan kepada Allah. Sedangkan dzikir yang dinisbatkan kepada ham-ba, maka itu bukan yang hakiki. Allah yang mengingat hamba-Nya merupakan dzikir (pengingatan) yang hakiki. Ini merupakan kesaksian dzikir Allah terhadap hamba-Nya dan Dia menyebutnya di antara orang-orang yang layak untuk diingat, lalu menjadikannya orang yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Jadi pada hakikatnya dia orang yang berdzikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena Allahlah yang menjadikan dirinya orang yang berdzikir kepada-Nya, lalu Allah pun mengingatnya Orang yang berada dalam dzikir lalu dia mempersaksikan terhadap dirinya bahwa dia orang yang berdzikir, merupakan bualan. Padahal dia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat. Bualan ini tidak hilang dari dirinya kecuali jika dia meniadakan kesaksian terhadap dzikirnya.

Sumber : madarijus salikin karya ibnul qoyyim

Mimpi Yang Benar Seorang Mukmin Adalah Salah Satu Mukjizat Yang Dimiliki Nabi


Mimpi yang benar, yang merupakan satu bagian dari nubuwah, seperti yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

"Mimpi yang benar itu merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwah/kenabian."

Tapi dalam riwayat lain yang shahih disebutkan merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari nubuwah. Yang pasti, mimpi meru-pakan permulaan wahyu. Kebenarannya tergantung kepada orang yang bermimpi, dan mimpi yang paling benar ialah mimpinya orang yang per-kataannya paling benar dan jujur. Jika kiamat sudah dekat, maka hampir tidak ada mimpi yang meleset, karena jaraknya yang jauh dari masa nubu-wah. Sementara pada masa nubuwah tidak membutuhkan mimpi-mimpi yang benar ini, karena sudah ada kekuatan cahaya nubuwah.

Kebalikan dari mimpi yang benar ini adalah karamah yang muncul setelah masa shahabat, namun tidak muncul pada masa dekatnya hari kiamat. Hal ini disebabkan kuat dan lemahnya iman. Begitulah yang dite-gaskan Al-Imam Ahmad.

Ubadah bin Ash-Shamit berkata, "Mimpi orang Mukmin merupa-kan perkataan yang disampaikan Allah kepada hamba-Nya ketika dia ti-dur."

Mimpi itu layaknya suatu pengungkapan, di antaranya ada yang berasal dari Allah, ada yang berasal dari kejiwaan dan ada yang berasal dari syetan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

:

"Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi dari Allah, mimpi sedih dari syetan dan mimpi yang terbawa bisikan seseorang ke dalam hatinya saat terjaga, lalu dia memimpikannya saat tidur."

Mimpi yang menjadi sebab hidayah adalah mimpi yang secara khu-sus datangnya dari Allah. Sementara mimpi para nabi sama dengan wahyu, karena mimpi mereka terlindung dari syetan. Begitulah kesepakatan umat.

Karena itu Al-Khalil Ibrahim hendak menyembelih putranya, sekalipun itu bermula dari perintah dalam mimpi yang beliau alami. Sedangkan mimpi selain para nabi, bisa dilaksanakan seperti halnya wahyu yang jelas, jika memang tepat. Jika tidak, maka tidak perlu diamalkan. Lalu apa ko-mentar kalian tentang mimpi yang benar? Jika mimpi itu mimpi yang benar, maka ia tidak akan bertentangan dengan wahyu. Siapa yang ingin agar mimpinya benar, maka hendaklah dia terus-menerus menjaga keju-jurannya, memakan yang halal, menjaga perintah dan larangan, tidur dalam keadaan suci, menghadap ke arah kiblat, menyebut asma Allah hingga matanya terlelap. Jika dia berbuat seperti ini, hampir pasti mimpi-nya bukan mimpi yang dusta.

Mimpi yang paling benar adalah mimpi pada waktu sahur, karena itulah waktu turunnya wahyu, rahmat, ampunan dan saat syetan me-nyingkir jauh. Sebaliknya, mimpi pada permulaan malam adalah mimpi yang banyak ditebari syetan dan ruh-ruh syetan.

Sumber : kitab madarijus shalikin karya ibnul qoyyim

Apa Hikmah Dibalik Diciptakan Setan Bagi Manusia?

Oleh :Ruswanto Syamsuddin



imageAkhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.

Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.

Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.

Apa Itu Setan?


Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).

Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).

Mudharat Tayangan Setan


Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.

Hikmah Diciptakannya Setan


Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.

Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.

Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.

Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.

Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah :


1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,


Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.


Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya.


Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).

5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.


Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.

Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?


Sumber . Swaramuslim.com @2004 

(14 years ago)